Pencarian

92 Ribu Jiwa Terdampak Krisis Air Bersih di Maros, BPBD Hanya Punya 4 Armada Tangki untuk 10 Kecamatan

Minggu, 12 Juli 2026 • 18:21:31 WIB
92 Ribu Jiwa Terdampak Krisis Air Bersih di Maros, BPBD Hanya Punya 4 Armada Tangki untuk 10 Kecamatan
Warga di tiga kecamatan Maros terdampak krisis air bersih akibat kekeringan parah.

MAROS — Tiga kecamatan di Kabupaten Maros sudah masuk kategori kekeringan paling parah: Bontoa, Lau, dan Maros Baru. Kepala BPBD Maros, To Wadeng, menyebutkan bahwa dari total 92 ribu jiwa yang terdampak, sekitar 32 ribu di antaranya berada di Kecamatan Bontoa.

“Dari tujuh kelurahan dan desa yang ada, sekitar 90 persen wilayahnya telah terdampak. Mereka sudah sangat membutuhkan air bersih,” ujar To Wadeng saat dihubungi, Minggu (12/7/2026).

Empat Armada Tangki untuk Sepuluh Kecamatan

BPBD Maros saat ini hanya mengoperasikan empat unit mobil tangki air bersih. Padahal, idealnya dibutuhkan delapan armada untuk membackup penyaluran ke seluruh titik terdampak. To Wadeng mengakui jumlah itu tidak mencukupi, apalagi jika musim kemarau ekstrem tahun ini memperluas cakupan wilayah.

Tahun lalu, delapan kecamatan terdampak kekeringan. Tahun ini, BPBD memprediksi jumlahnya bertambah menjadi 10 kecamatan, meliputi Turikale, Marusu, Mandai, Moncongloe, Tanralili, Bantimurung, Simbang, Bontoa, Lau, dan Maros Baru.

Jadwal Penyaluran dan Koordinasi Bantuan Armada

BPBD Maros sudah menyusun jadwal penyaluran air bersih pada pekan ketiga hingga keempat Juli 2026, prioritas untuk tiga kecamatan paling parah: Bontoa, Lau, dan Maros Baru. Untuk menutupi kekurangan armada, BPBD berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Sulawesi Selatan dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang.

“Kami minta bantuan armada air bersih dari Balai Pompengan dan BPBD Provinsi,” kata To Wadeng.

Kecamatan Langganan Kekeringan Setiap Kemarau

To Wadeng menjelaskan, sejumlah wilayah di Maros menjadi langganan kekeringan setiap kali hujan tidak turun selama sebulan. Warga di kawasan itu hanya bisa mengandalkan pembelian air atau bantuan dari pemerintah. Berdasarkan rilis BMKG, kemarau sudah terjadi sejak awal Juni dan puncaknya diperkirakan pada Juli 2026.

Kecuali mereka membeli air atau mendapatkan bantuan air bersih dari pemerintah, kata To Wadeng, merujuk pada pola yang terus berulang setiap musim kemarau.

Bagikan
Sumber: sindomakassar.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks