Pencarian

Rupiah Tembus Rp18.128 per Dolar AS, Tertekan Konflik Iran-AS dan Sinyal The Fed

Jumat, 10 Juli 2026 • 10:32:31 WIB
Rupiah Tembus Rp18.128 per Dolar AS, Tertekan Konflik Iran-AS dan Sinyal The Fed
Nilai tukar rupiah melemah ke Rp18.128 per dolar AS akibat ketegangan geopolitik dan sinyal The Fed.

SULAWESI SELATAN — Ketegangan di Selat Hormuz menjadi pemicu utama kepanikan pasar hari ini. Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap Iran untuk menjaga jalur pelayaran strategis tersebut tetap terbuka. Ancaman ini muncul beberapa jam setelah Trump menyatakan bahwa kesepakatan sementara guna mengakhiri perang telah 'berakhir'.

Akibatnya, perusahaan asuransi perang merekomendasikan penghentian sementara operasional pelayaran di jalur vital yang mengangkut sepertiga pasokan minyak dunia tersebut. Kekhawatiran akan gangguan pasokan energi dan eskalasi militer mendorong investor global memburu dolar AS sebagai aset aman (safe haven), sehingga menekan hampir seluruh mata uang emerging market, termasuk rupiah.

Sikap The Fed Kurang Akomodatif Tambah Beban

Selain faktor geopolitik, pasar keuangan domestik juga tengah mencerna risalah rapat (minutes of meeting) bank sentral AS, The Fed, periode Juni. Risalah tersebut menunjukkan sikap yang kurang akomodatif, mengindikasikan bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama dari perkiraan sebelumnya.

Ekspektasi suku bunga AS yang tetap tinggi membuat imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) semakin atraktif. Alhasil, aliran modal asing keluar dari pasar negara berkembang seperti Indonesia semakin deras, memperburuk tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Pengamat: Sentimen Global Masih Akan Mendominasi

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai situasi di Selat Hormuz telah menciptakan ketidakpastian global yang luar biasa. Menurutnya, konflik yang memanas menjadi beban berat bagi mata uang garuda karena secara langsung memperkuat dolar AS.

"Serangan baru terhadap Iran yang bertujuan untuk menjaga Selat Hormuz yang penting tetap terbuka untuk lalu lintas, beberapa jam setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang telah 'berakhir'," jelas Ibrahim dalam keterangan resminya, Kamis (9/7). Ia menambahkan bahwa pasar kini menunggu perkembangan lebih lanjut dari kebijakan moneter The Fed yang juga menjadi faktor penekan tambahan.

Dampak ke Pasar dan Pelaku Bisnis

Pelemahan rupiah ke level psikologis Rp18.000-an ini berpotensi meningkatkan biaya impor, terutama bagi perusahaan yang memiliki utang dalam denominasi dolar AS. Sektor manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor dan industri energi diperkirakan akan merasakan dampak paling langsung.

Di sisi lain, investor ritel disarankan untuk mencermati pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan. Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan kembali melakukan intervensi guna menstabilkan kurs di tengah tingginya volatilitas global.

Bagikan
Sumber: ekbis.sindonews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks