MAKASSAR — Pemerintah Kota Makassar tidak bisa bekerja sendiri dalam urusan literasi. Kepala Dinas Perpustakaan Kota Makassar Aryati Puspasari Abady, Senin, menekankan bahwa keberhasilan pembangunan literasi memerlukan dukungan aktif dari seluruh pemangku kepentingan, khususnya satuan pendidikan.
"Keberhasilan pembangunan literasi tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata, tetapi memerlukan dukungan aktif dari seluruh pemangku kepentingan, khususnya satuan pendidikan," ujarnya.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Ekosistem Literasi
Dispus Makassar membuka pintu kerja sama dengan berbagai pihak. Mulai dari sekolah, perguruan tinggi, komunitas literasi, dunia usaha, organisasi profesi, penerbit, hingga media massa. Sinergi ini diyakini menjadi kunci dalam membangun ekosistem literasi yang kuat dan berkelanjutan.
Ruang kolaborasi ini diwadahi dalam Program Sentuh Pustaka. Akronim dari Semua Membantu Menghidupkan Perpustakaan, program ini merupakan inovasi unggulan Dispus Makassar. Pendampingan diberikan kepada sekolah binaan agar mampu menyelenggarakan perpustakaan sesuai Standar Nasional Perpustakaan (SNP).
Pendampingan Berkelanjutan Hingga Akreditasi
Pendampingan dilakukan secara berkelanjutan. Mulai dari penataan kelembagaan, koleksi, layanan, tenaga perpustakaan, administrasi, hingga persiapan akreditasi perpustakaan. Pelaksana Tugas Kepala Bidang Pengembangan Perpustakaan dan Pembudayaan Kegemaran Membaca Dispus Makassar Tulus Wulan Juni menjelaskan bahwa Sentuh Pustaka telah memberikan dampak nyata terhadap peningkatan mutu perpustakaan sekolah.
Berkat konsistensi pelaksanaannya sejak 2018, inovasi Sentuh Pustaka telah memperoleh berbagai penghargaan. Program ini menjadi TOP inovasi pelayanan publik di tingkat Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, hingga tingkat nasional. Bahkan, Sentuh Pustaka telah menjadi salah satu model pembinaan perpustakaan sekolah yang direplikasi oleh sejumlah daerah di Indonesia.
Perpustakaan Sekolah Harus Jadi Ruang Belajar yang Hidup
Aryati menegaskan, perpustakaan sekolah harus menjadi ruang belajar yang hidup, menarik, dan mampu mendorong peserta didik untuk gemar membaca, belajar, dan berinovasi. Kerja sama ini bertujuan untuk saling mendukung dalam menghidupkan kembali peran perpustakaan sekolah sebagai pusat sumber belajar siswa.
Menurut Tulus, keberhasilan pembinaan perpustakaan tidak hanya diukur dari bertambahnya jumlah perpustakaan terakreditasi. Lebih dari itu, meningkatnya kualitas layanan, kompetensi tenaga perpustakaan, pemanfaatan perpustakaan sebagai pusat pembelajaran, serta tumbuhnya budaya membaca di lingkungan sekolah menjadi indikator utama.
Melalui kolaborasi yang semakin luas, Dispus Makassar optimistis dapat mempercepat peningkatan kualitas perpustakaan sekolah. Targetnya, memperkuat Gerakan Literasi Sekolah serta mendorong peningkatan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Kegemaran Membaca (TGM). Semua ini sebagai bagian dari upaya mewujudkan Kota Makassar sebagai kota yang cerdas, berbudaya literasi, dan berdaya saing.