SULAWESI SELATAN — KAI resmi mengumumkan kesiapan penuh seluruh sarana perkeretaapian berbasis diesel untuk menggunakan biodiesel B50. Keputusan ini diambil seiring dengan pemberlakuan mandatori B50 oleh pemerintah yang mulai efektif tahun ini. Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyatakan bahwa uji coba telah dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan performa lokomotif tetap optimal.
"Kami telah melakukan berbagai pengujian teknis pada seluruh lokomotif diesel. Hasilnya, semuanya dinyatakan siap dan aman untuk mengoperasikan B50 tanpa penyesuaian mesin yang signifikan," ujar Anne dalam keterangan resmi.
Uji Coba dan Adaptasi Teknis
KAI tidak serta-merta menerapkan B50. Sebelumnya, perusahaan pelat merah ini telah melalui tahapan uji coba bertahap, mulai dari pencampuran B35 hingga B40. Proses adaptasi ini mencakup pengecekan sistem injeksi bahan bakar, filter, dan komponen mesin lainnya yang rentan terhadap kandungan biodiesel yang lebih tinggi.
Dengan total lebih dari 400 lokomotif diesel yang beroperasi di berbagai rute, kesiapan ini menjadi kunci agar tidak terjadi gangguan operasional. Anne menambahkan, tim teknis KAI juga telah dibekali pelatihan khusus untuk menangani perawatan mesin dengan bahan bakar B50.
Dampak pada Operasional dan Lingkungan
Penerapan B50 diyakini akan menekan biaya impor solar dan menurunkan emisi gas rumah kaca. Bagi KAI, langkah ini juga menjadi bagian dari strategi efisiensi jangka panjang, mengingat harga biodiesel berbasis sawit relatif lebih stabil dibandingkan bahan bakar fosil.
Meski demikian, KAI memastikan kebijakan ini tidak akan berdampak pada tarif tiket kereta api untuk penumpang. "Kami tetap menjaga pelayanan prima. Tidak ada rencana penyesuaian tarif akibat penggunaan B50," tegas Anne.
Langkah KAI ini sejalan dengan instruksi Kementerian BUMN dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk mempercepat penggunaan energi baru terbarukan di sektor transportasi publik. Ke depannya, KAI juga akan terus memantau performa mesin secara berkala guna mengantisipasi potensi kendala teknis di lapangan.