MAKASSAR — Kantong warga Sulawesi Selatan makin tertekan di pertengahan tahun ini. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju inflasi tahunan (year on year) provinsi ini mencapai 3,56 persen pada Juni 2026, dengan emas perhiasan dan komoditas pangan sebagai penyumbang utama.
Kepala BPS Sulsel Aryanto mengungkapkan, dari dua belas kelompok pengeluaran, hanya satu yang mencatat deflasi. "Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya melonjak 10,48 persen, disusul makanan, minuman dan tembakau sebesar 5,69 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 3,1 persen," ujarnya di Makassar, Rabu.
Emas Perhiasan Sumbang 0,77 Persen ke Inflasi Tahunan
Komoditas yang paling dominan mendorong inflasi adalah emas perhiasan, dengan sumbangan mencapai 0,77 persen. Disusul oleh bahan pangan seperti ikan layang/benggol (0,14 persen), tomat (0,13 persen), dan cabai rawit (0,13 persen).
Daging ayam ras, beras, dan minyak goreng masing-masing menyumbang 0,12 persen dan 0,11 persen. Sementara itu, dari sektor non-pangan, bensin dan sigaret kretek mesin juga ikut mendorong inflasi sebesar 0,12 persen.
Bensin Pemicu Inflasi Bulanan, Harga Naik dalam Sebulan
Jika dilihat secara bulanan (month to month), bensin menjadi kontributor inflasi terbesar dengan sumbangan 0,11 persen. Ikan layang dan cabai merah juga ikut mendongkrak indeks harga pada Juni 2026.
Meski demikian, Aryanto menyebut laju inflasi Sulsel hingga pertengahan tahun ini masih terkendali dalam batas target pemerintah. "Tetap memerlukan pengawasan ketat terhadap stabilitas pasokan pangan dan energi menjelang semester kedua," imbuhnya.
Inflasi Tertinggi di Luwu Timur, Terendah di Bulukumba
Secara spasial, tekanan harga tidak merata di seluruh wilayah. Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Luwu Timur yang mencapai 4,32 persen dengan IHK 113,76. Sebaliknya, Kabupaten Bulukumba mencatat inflasi paling rendah, yakni 2,57 persen dengan IHK 110,54.
Satu-satunya kelompok yang mengalami deflasi adalah pakaian dan alas kaki, yang turun 0,42 persen. Hal ini memberikan sedikit ruang napas bagi konsumen di tengah kenaikan harga barang dan jasa lainnya.