MAKASSAR — Ambisi besar PERSINAS ASAD untuk mendominasi Porprov Sulawesi Selatan 2026 mulai dimatangkan. Organisasi pencak silat ini menggelar Rakerprov yang dihadiri jajaran pengurus kabupaten dan kota se-Sulsel sebagai titik awal konsolidasi dan eksekusi program strategis.
Tiga Fokus Utama: Organisasi, Prestasi, dan Tradisi
Sekretaris Umum PB PERSINAS ASAD, Weda Hendragiri, membeberkan tiga prioritas nasional yang harus dijalankan serentak oleh seluruh pengurus daerah. Ketiganya adalah penguatan organisasi, peningkatan prestasi atlet, dan pelestarian silat tradisi.
“PB memiliki program besar di tiga bidang, organisasi, prestasi, dan silat tradisi. Seluruh pengprov harus bergerak dalam ritme yang sama agar pembinaan berjalan sistematis dan target prestasi bisa tercapai,” ujar Weda dalam forum tersebut.
Target Emas Bukan Sekadar Ambisi
Weda menegaskan bahwa target yang dipasang untuk Porprov 2026 bukanlah sekadar ambisi tanpa dasar. Ia menyebut angka tersebut telah dihitung secara realistis dan terukur, sehingga seluruh perangkat organisasi harus mulai bekerja sejak sekarang.
“Target realistis kita adalah meraih prestasi maksimal di Porprov 2026. Karena itu seluruh perangkat organisasi harus bekerja dari sekarang, mulai pembinaan atlet, penguatan pelatih, hingga kaderisasi,” katanya.
Eksekusi Langsung dari Pengprov Sulsel
Menindaklanjuti arahan dari Pengurus Besar, Ketua Pengprov PERSINAS ASAD Sulawesi Selatan, Ambo Tang, menyatakan kesiapan penuh untuk mengeksekusi program. Ia memastikan langkah teknis pembinaan akan segera disusun dan dijalankan di seluruh kabupaten dan kota.
“Kami akan langsung bekerja untuk mewujudkan target capaian maksimal. Ini bukan sekadar komitmen, tetapi langkah nyata agar Sulawesi Selatan bisa memberikan hasil terbaik di Porprov 2026,” ujar Ambo.
Pembinaan Atlet dan Kaderisasi Jadi Prioritas
Rakerprov yang mengusung tema “Membangun Pesilat Profesional Berprestasi, Berbudaya, dan Berkarakter Luhur” ini menjadi forum penyusunan langkah teknis. Fokus utama pembahasan meliputi pembinaan atlet, penguatan kapasitas pelatih, serta kaderisasi berjenjang di tingkat kabupaten dan kota.
Selain mengejar prestasi, forum ini juga menegaskan pentingnya menjaga pencak silat sebagai identitas utama perguruan. Silat tradisi disebut sebagai akar budaya yang harus terus dilestarikan di tengah upaya mencetak atlet profesional.