SULAWESI SELATAN — Timnas Indonesia U-15 memastikan tempat di Piala Dunia dan Festival U-15 FIFA 2026 yang berlangsung di Baku, Azerbaijan, pada 22-30 Oktober. Skuad asuhan Furqon Alkatiri tergabung di Grup G bersama Portugal, Bangladesh, Burundi, Fiji, dan Wales.
Partisipasi Garuda Muda di turnamen perdana FIFA ini membawa misi berbeda dari ajang kelompok umur biasa. Enam negara dari lima konfederasi berbeda menanti di Grup G, termasuk Portugal yang berstatus langganan tim kuat Eropa di level usia dini.
Furqon Alkatiri, mantan pelatih Persija U-20, dipercaya memimpin tim melewati deretan lawan dari Asia, Afrika, Oseania, dan Eropa. Pengalaman menangani kelompok umur di level klub jadi modalnya membangun skuad dalam waktu terbatas.
Komposisi Grup G menghadirkan Bangladesh dan Burundi sebagai lawan paling familiar dari sisi karakter permainan. Fiji mewakili Oseania, sementara Portugal dan Wales membawa standar sepak bola Eropa yang jauh lebih matang secara taktik.
Bagi pemain U-15 Indonesia, menghadapi Portugal menjadi ujian tersendiri. Negara itu rutin mengirim tim ke berbagai turnamen kelompok umur FIFA dan dikenal disiplin dalam pengembangan pemain muda.
Piala Dunia dan Festival U-15 FIFA 2026 memakai format 8 lawan 8, bukan 11 lawan 11 seperti pertandingan senior. Setiap laga dimainkan dua babak dengan durasi dua kali 20 menit, disesuaikan dengan kapasitas fisik kelompok usia ini.
Turnamen dibuka dengan babak kualifikasi berformat setengah kompetisi. Pada fase ini, tiap tim dijadwalkan melakoni sekitar 4-5 pertandingan. Hasil kualifikasi kemudian memetakan peserta ke dalam enam tingkatan performa atau performance tiers.
Di Fase Turnamen, setiap tim kembali memainkan 4-5 laga tambahan sesuai tingkatannya. Rancangan ini memastikan seluruh peserta mendapat jam terbang maksimal, bukan semata mengejar satu gelar juara tunggal.
Ketua Umum PSSI Erick Thohir menilai penyelenggaraan turnamen ini sejalan dengan penguatan fondasi pembinaan usia dini. Menurutnya, FIFA sengaja merancang ajang ini agar anak-anak mencintai sepak bola sejak awal.
"Ini merupakan langkah besar FIFA untuk meningkatkan kecintaan anak-anak terhadap sepak bola sekaligus memperkuat pembinaan talenta muda sejak usia dini," ujar Erick dikutip dari unggahannya di Instagram.
Erick menyebut kesempatan tampil di Baku sebagai pengalaman berharga bagi talenta muda Indonesia. Selain mengasah kemampuan, para pemain bisa belajar dari berbagai budaya sepak bola negara peserta lain.
"Kesempatan ini menjadi pengalaman berharga bagi talenta muda Indonesia untuk merasakan kompetisi internasional, mengembangkan kemampuan, dan belajar dari berbagai budaya sepak bola," tandasnya.
Rangkaian pertandingan berlangsung 22-30 Oktober 2026 di Baku. Dengan format setengah kompetisi, Indonesia dipastikan menjalani minimal empat laga di fase kualifikasi sebelum masuk ke tingkatan performa.
Bagi Furqon Alkatiri, waktu persiapan jadi tantangan utama. Ia harus mematangkan organisasi permainan 8 lawan 8, pola rotasi pemain, dan adaptasi tempo dua babak pendek dalam hitungan pekan.