SULAWESI SELATAN — Proyek Halo: Dreamcast Evolved berhasil menjalankan Halo: Combat Evolved di konsol SEGA Dreamcast, dengan build awal mencapai sekitar 60 FPS di area tertentu. Pencapaian ini muncul meski Dreamcast punya memori empat kali lebih kecil dan tenaga komputasi 1,4 GFLOPS, jauh di bawah Xbox original yang mencapai 20 GFLOPS.
Pengembang yang dikenal sebagai @JiltedValkyrie menggarap proyek port berjudul Halo: Dreamcast Evolved, menargetkan versi lengkap game tembak-menembak tersebut di perangkat keras SEGA. Dreamcast sendiri sudah dihentikan produksinya sejak 2001, jauh sebelum Halo: Combat Evolved dirilis untuk Xbox pada 2001.
Kesenjangan perangkat keras jadi tantangan utama proyek ini. Dreamcast hanya punya memori seperempat dari Xbox original, sementara kemampuan komputasinya berada di angka 1,4 GFLOPS berbanding 20 GFLOPS milik Xbox.
Di balik angka frame rate yang belum stabil, ada beberapa penyesuaian teknis yang membuat game ini bisa berjalan sama sekali di Dreamcast. Build yang dipakai masih sangat awal, jadi sebagian besar optimasi belum masuk.
Animasi karakter dan AI musuh disebut sebagai beban terbesar bagi CPU Dreamcast. Keduanya memakan sumber daya prosesor yang memang sudah terbatas sejak awal.
Video gameplay berdurasi 24 menit memperlihatkan misi Pillar of Autumn dan sebagian eksplorasi level Halo, termasuk demonstrasi detail mapping secara real-time. Di luar momen-momen singkat yang menyentuh 60 FPS, permainan umumnya berjalan di kisaran 10-20 FPS.
Angka itu membuat game belum nyaman dimainkan dari awal sampai akhir. Meski begitu, fakta bahwa Halo: Combat Evolved bisa menyala di Dreamcast sudah cukup mengejutkan mengingat selisih perangkat keras kedua konsol.
Proyek ini muncul di tengah gelombang modding dan decompiling berbasis AI yang belakangan ramai di komunitas. Microsoft sendiri sudah menanggapi tren tersebut lewat inisiatif Xbox Labs, wadah untuk mengeksplorasi proyek-proyek serupa.
Sebelum Dreamcast, Halo: Combat Evolved sudah lebih dulu dijalankan di berbagai perangkat lain, mulai dari iOS, Android, Linux, hingga Nintendo 64. Pola ini membuat game tersebut semacam tolok ukur baru untuk menguji seberapa jauh perangkat keras lama bisa dipaksa bekerja.
Halo: Dreamcast Evolved masih jauh dari status playable penuh. Build saat ini cocok untuk penggemar konsol retro dan pengikut scene modding yang ingin melihat batas kemampuan Dreamcast, bukan untuk pengalaman bermain Halo secara utuh. Perkembangan berikutnya bergantung pada hasil optimasi culling, LOD, dan perhitungan matematis yang masih digarap pengembang.