IGRS Jadi Acuan Rating Game Anak, Orang Tua dan Sekolah Diminta Terlibat

Penulis: Aditya Nugraha  •  Senin, 19 Oktober 2026 | 17:38:31 WIB
Psikolog klinis Veronica Adesla menilai pendampingan orang tua dan guru menentukan efektivitas penerapan IGRS pada anak.

SULAWESI SELATAN — Penerapan Indonesia Game Rating System (IGRS) dinilai butuh dukungan orang tua dan guru, bukan hanya pembatasan usia di label game. Psikolog klinis Veronica Adesla menyebut pendampingan orang dewasa menentukan apakah aturan rating benar-benar dipahami anak. Tanpa bimbingan itu, klasifikasi usia dianggap hanya jadi formalitas di toko aplikasi.

Veronica Adesla, co-founder sekaligus psikolog klinis yang tergabung dalam Ikatan Psikolog Klinis Indonesia, menekankan bahwa sistem rating tidak bekerja sendiri. Orang tua dan guru berperan membimbing anak memahami alasan di balik aturan usia dalam IGRS, bukan sekadar melarang judul tertentu.

Menurutnya, pendampingan juga mencakup edukasi soal perilaku bermain yang aman, sehat, dan bertanggung jawab. Tujuannya agar anak perlahan mampu mengelola sendiri kebiasaan bermainnya.

Mengapa Rating Usia Saja Tidak Cukup

Label usia pada game hanya memberi informasi awal bagi orang dewasa. Tanpa penjelasan lanjutan, anak bisa tetap mengakses permainan di luar kelompok usianya lewat perangkat pribadi atau akun bersama.

Veronica menilai komunikasi terbuka jadi kunci. Orang tua sebaiknya menunjukkan ketertarikan pada aktivitas digital anak tanpa langsung menghakimi, sehingga anak merasa aman bercerita ketika mengalami pengalaman tidak menyenangkan di ruang bermain daring.

"Tujuannya adalah untuk mengenali permainan yang dimainkan anak, memahami daya tariknya, mengetahui dengan siapa anak berinteraksi dan membicarakan pengalaman bermainnya," ujarnya kepada detikINET.

Langkah Pendampingan yang Bisa Diterapkan

Ada sejumlah praktik yang bisa dijalankan orang tua di rumah. Veronica menyusunnya sebagai berikut:

  1. Bangun komunikasi terbuka dan hindari sikap menghakimi saat anak bercerita soal game yang dimainkannya.
  2. Tetapkan batasan konsisten sesuai usia, mencakup jenis permainan, durasi bermain, fitur komunikasi, dan transaksi di dalam game.
  3. Libatkan anak dalam menyusun kesepakatan bermain agar kemampuan mengatur diri ikut terlatih.
  4. Jadilah contoh, karena anak lebih cepat meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya daripada mendengar nasihat.

Soal keteladanan, Veronica menyoroti kebiasaan orang dewasa di rumah. Sulit mengharapkan anak punya kebiasaan digital sehat bila orang di sekitarnya terus memakai gadget tanpa batas.

"Orang tua menjadi contoh. Anak lebih cepat belajar dari mencontoh apa yang dilihatnya daripada apa yang didengarnya," kata dia.

Peran Sekolah Lewat Literasi Digital

Dari sisi pendidikan formal, sekolah diminta memberi literasi digital yang menyentuh aspek psikologis. Materi itu mencakup isu keamanan digital, risiko cyberbullying, pengendalian impuls, dampak bermain berlebihan, hingga cara menghadapi tekanan sosial dari lingkungan permainan daring.

Veronica juga mengingatkan pentingnya kehidupan offline yang menyenangkan. Anak yang punya kesempatan bermain langsung, berolahraga, berinteraksi dengan teman, mengeksplorasi minat, dan mendapat dukungan emosional cenderung tidak menjadikan game sebagai satu-satunya sumber kesenangan atau pelarian saat merasa tertekan.

"Anak perlu memiliki kehidupan offline yang menyenangkan dan bermakna," tandasnya.

Konteks bagi Orang Tua dan Pelaku Industri

Bagi orang tua pengguna smartphone aktif, IGRS berfungsi sebagai rujukan awal sebelum mengizinkan anak mengunduh game. Membaca label rating perlu dilanjutkan dengan mengecek fitur komunikasi dan pembelian dalam aplikasi, dua hal yang paling sering luput diperhatikan.

Pelaku bisnis game di Indonesia juga berkepentingan menjaga kepatuhan pada klasifikasi usia, terutama menjelang pengawasan konten digital yang makin ketat. Sementara bagi investor, penerapan rating yang konsisten di pasar lokal menjadi sinyal tata kelola produk yang lebih matang di sektor gaming dan edutech.

Penerapan IGRS yang efektif bergantung pada rantai pendampingan: label di toko aplikasi, pengawasan orang tua di rumah, dan literasi digital di sekolah.

Reporter: Aditya Nugraha
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top