MAKASSAR — Catatan tiga gelar itu diraih Nafeesa setelah menjalani latihan hampir setiap hari sepulang sekolah, sekitar dua jam per sesi. Pada akhir pekan, porsi latihan bertambah menjadi tiga jam di Lapangan Cheng Hoo Archery School.
Konsistensi tersebut menjadi kunci menjaga ketepatan bidikan di kategori U13 yang diikuti lebih dari seratus peserta. Panahan tradisional menuntut penguasaan teknik, pengaturan pernapasan, dan kemampuan mempertahankan fokus saat tekanan pertandingan meningkat.
Bagi Nafeesa, menghadapi kompetisi bukan sekadar menyiapkan busur dan anak panah. Ia menjaga rutinitas ibadah, mengulang hafalan Al-Qur'an, dan melatih fokus sebelum bertanding.
"Persiapannya sebelum lomba itu Nafeesa jaga salat, murojaah hafalan, terus latihan fokus pernapasan. Sama Coach disuruh banyak latihan teknik rilis biar bidikannya konsisten. Malam sebelum lomba, Nafeesa juga tidur cepat biar tidak ngantuk pas lomba," ungkap Nafeesa.
Menjelang Forkot Makassar 2026, ia berlatih hampir setiap hari setelah menyelesaikan kegiatan sekolah. "Untuk FORKOT ini Nafeesa latihan hampir setiap hari, Kak, sekitar dua jam sepulang sekolah. Kalau weekend bisa lebih lama, tiga jam di Lapangan Cheng Hoo Archery School," tuturnya.
Nafeesa menyadari keberhasilannya tidak diraih seorang diri. Keluarga menjadi sumber semangat terbesar, terutama dalam mendampingi latihan yang berjalan beriringan dengan pendidikan formal.
"Yang paling banyak membantu itu pertama orang tua yang selalu antar jemput dan mendoakan. Terus Coach Nurhalisah di Cheng Hoo Archery School yang selalu sabar mengajarkan saya. Juga ustazah di SD Al-Qur'an Wahdah Islamiyah 02 Makassar yang selalu kasih semangat dan izin kalau harus latihan. Dan teman-teman beregu aku, Idham dan Adeva," kata Nafeesa.
Di bawah bimbingan Coach Nurhalisah, Nafeesa mengasah teknik panahan dan membangun kebiasaan latihan terarah. Dukungan sekolah memberi ruang bagi dirinya menjalani olahraga tanpa mengabaikan tanggung jawab sebagai pelajar.
Prestasi di Forkot Makassar 2026 tidak membuat Nafeesa berhenti belajar. Ia ingin berbagi semangat kepada anak-anak lain yang tertarik menekuni panahan tradisional.
"Jangan takut coba, Kak! Kuncinya itu harus berani, fokus, dan jangan lupa berdoa dulu sebelum memanah. Kalau meleset jangan sedih, coba lagi. Latihan yang rajin dan harus jaga adab. Insya Allah bisa juara juga," pesannya.
Menurut Nafeesa, keberanian mencoba dan kemauan berlatih menentukan perjalanan meraih prestasi. Satu bidikan meleset bukan alasan menyerah, melainkan kesempatan memperbaiki teknik.
Setelah tiga gelar di Forkot, Nafeesa menyiapkan target lebih tinggi. Ia ingin meningkatkan kualitas latihan dan membuka peluang tampil di ajang nasional.
"Setelah ini Nafeesa mau lebih rajin lagi latihannya. Targetnya semoga bisa ikut FORNAS mewakili Sulawesi Selatan. Nafeesa mau bikin orang tua bangga, sekolah Wahdah 02, dan Cheng Hoo Archery School bangga lagi," ungkapnya.
Keikutsertaan di FORNAS masih menjadi harapan yang diperjuangkan melalui latihan, pembinaan, dan kesempatan mengikuti kompetisi berikutnya. Tiga prestasi di Forkot Makassar 2026 menjadi modal awal menuju panggung yang lebih besar.