MAKASSAR — Program dialog budaya Pappaseng ri Elompugi menghadirkan dua akademisi Sulawesi Selatan untuk membahas keberlanjutan sastra daerah. Prof. Andis, sapaan Prof. Andi Sukri Syamsuri, menyoroti pentingnya sastra daerah dan literasi berbasis kearifan lokal sebagai upaya menjaga nilai budaya Bugis-Makassar.
Ia juga dikenal sebagai akademisi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar. Dalam dialog itu, Prof. Andis hadir bersama Dr. Nurjannah Abna yang menjabat Dekan Fakultas Sastra Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar.
Sastra Bugis-Makassar menyimpan nilai moral, pandangan hidup, serta pengetahuan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan itu tidak hanya hadir dalam karya sastra tertulis, tetapi juga melalui tradisi lisan yang berkembang di tengah masyarakat.
Karena itu, pelestarian sastra daerah perlu berjalan beriringan dengan upaya mendokumentasikan dan memperkenalkannya kepada generasi muda. Dialog Pappaseng ri Elompugi menjadi ruang untuk membahas peran sastra dan kearifan lokal dalam menjaga identitas budaya masyarakat Bugis-Makassar.
Perubahan sosial dan perkembangan teknologi membuat penguatan literasi budaya semakin relevan. Generasi muda perlu memperoleh akses terhadap pengetahuan mengenai bahasa, sastra, tradisi, dan nilai-nilai yang membentuk identitas daerahnya.
Pengenalan sastra daerah melalui pendidikan, kegiatan kebudayaan, dan media massa dinilai menjadi salah satu cara menjaga keberlanjutan warisan tersebut. Naskah-naskah kuno turut menyimpan pengetahuan mengenai sejarah, nilai sosial, dan kehidupan masyarakat pada masa lampau.
Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam pelestarian warisan budaya melalui penelitian, dokumentasi, pendidikan, serta pengembangan kajian sastra dan kebudayaan. Keterlibatan Prof. Andis dan Dr. Nurjannah Abna dalam dialog budaya tersebut membuka ruang pembahasan mengenai pentingnya menjaga sastra daerah agar tetap dikenal masyarakat luas.
Upaya pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Akademisi, budayawan, lembaga pendidikan, pemerintah, dan masyarakat dapat berkontribusi sesuai peran masing-masing dalam merawat kekayaan budaya Sulawesi Selatan.
Program Pappaseng ri Elompugi menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan sastra dan kearifan lokal kepada masyarakat melalui media penyiaran. Lewat dialog kebudayaan, pembahasan yang berkembang di lingkungan akademik dapat menjangkau khalayak yang lebih luas.
Media massa memiliki peluang memperkuat literasi budaya dengan mengangkat tradisi, bahasa daerah, karya sastra, dan nilai-nilai lokal yang masih relevan dalam kehidupan masyarakat. Kolaborasi akademisi dan media dinilai dapat membantu memperluas pemahaman masyarakat mengenai pentingnya menjaga identitas budaya Bugis-Makassar.
Pelestarian sastra Bugis-Makassar bukan sekadar menjaga peninggalan masa lalu. Upaya tersebut berkaitan dengan keberlanjutan nilai budaya yang dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi berikutnya.
Pengenalan tradisi lisan, karya sastra, dan naskah kuno perlu dilakukan secara berkelanjutan agar generasi muda mengenal serta memahami warisan budaya daerahnya. Melalui kolaborasi akademisi, lembaga pendidikan, budayawan, dan media massa, kearifan lokal Sulawesi Selatan diharapkan tetap mendapat ruang di tengah perkembangan zaman.