Sembilan Atlet Muda Raih Djarum Beasiswa Bulutangkis 2026, Tersaring dari 2.140 Peserta

Penulis: Endra Sanjaya  •  Sabtu, 10 Oktober 2026 | 20:05:31 WIB
Sembilan atlet muda menerima Djarum Beasiswa Bulutangkis 2026 setelah tersaring dari 2.140 peserta audisi umum.

SULAWESI SELATAN — Sembilan atlet muda resmi menerima Djarum Beasiswa Bulutangkis 2026 dan bergabung dengan PB Djarum setelah melewati rangkaian Audisi Umum yang digelar di Pekanbaru, Makassar, dan Kudus. Mereka terpilih dari total 2.140 peserta, dengan 67 atlet sempat mengantongi Super Tiket sebelum karantina menyisakan 46 nama di tahap pertama.

Audisi Umum PB Djarum 2026 menuntaskan proses seleksinya di Kudus. Dari ribuan peserta yang mendaftar di tiga kota penyelenggara, hanya sembilan atlet yang dinilai memenuhi kriteria untuk menerima beasiswa sekaligus menempati slot pembinaan di klub tersebut.

Komposisi penerima beasiswa mencakup dua atlet KU 11 putri, tiga atlet KU 11 putra, satu atlet KU 11 putri, dua atlet KU 12 putra, dan satu atlet KU 12 putri. Penentuan nama-nama ini dilakukan usai peserta melewati seleksi berlapis serta masa karantina yang berjalan ketat.

67 Super Tiket Dibagi ke Tiga Kota Penyelenggara

Pekanbaru, Makassar, dan Kudus masing-masing mengirim wakil ke tahap berikutnya. Kudus menjadi penyumbang Super Tiket terbanyak dengan 36 atlet, disusul Makassar 16 atlet, dan Pekanbaru 15 atlet.

Para pemegang Super Tiket lalu menjalani karantina tahap pertama. Pada 28 September 2026, jumlah peserta menyusut menjadi 46 atlet yang berhak melanjutkan persaingan ke karantina tahap kedua.

Di tahap akhir inilah Tim Pencari Bakat bersama jajaran pelatih PB Djarum memutuskan siapa saja yang layak menyandang status penerima Djarum Beasiswa Bulutangkis 2026.

Keragaman Karakter Atlet Jadi Pertimbangan Tim Pencari Bakat

Ketua Tim Pencari Bakat Audisi Umum PB Djarum 2026, Sigit Budiarto, menyebut format audisi tiga kota membuat timnya bisa mengamati potensi atlet dari latar daerah yang lebih luas. Menurut dia, karakteristik peserta tahun ini jauh lebih bervariasi dibanding edisi-edisi sebelumnya.

"Kami bersyukur karena Audisi Umum PB Djarum tahun ini diikuti atlet-atlet dengan karakteristik yang lebih beragam. Salah satu faktornya adalah penyelenggaraan audisi di tiga kota, sehingga kami bisa melihat potensi dan karakter atlet dari berbagai daerah. Selamat kepada para atlet yang terpilih mendapatkan Djarum Beasiswa Bulutangkis. Bagi yang belum berhasil, jangan patah semangat. Tetap giat berlatih, berusaha, dan #TeruskanSemangatJuara," ungkap Sigit.

Sigit menambahkan, penilaian tidak semata melihat kemampuan teknis saat audisi berlangsung. Potensi jangka panjang dan kecocokan dengan kebutuhan pembinaan klub menjadi faktor penentu lain dalam rapat tim pencari bakat.

"Para atlet yang terpilih merupakan yang terbaik dan memang dibutuhkan oleh PB Djarum. Kami berharap mereka memiliki semangat dan tekad yang besar dalam menjalani latihan. Sebab, perjalanan untuk menjadi pebulutangkis profesional masih panjang, sehingga dibutuhkan kerja keras, kedisiplinan, kemauan, serta mental juara untuk terus berkembang," tambahnya.

Hendrawan: Satu Tahap Seleksi Bukan Penentu Akhir Karier

Koordinator Pelatih Tunggal Putri PB Djarum, Hendrawan, menilai hasil audisi hanyalah satu titik dari perjalanan panjang atlet muda menuju level prestasi tertinggi. Menurut juara dunia 2001 itu, tim pelatih wajib menetapkan pilihan berdasarkan kriteria yang sudah ditetapkan sambil mempertimbangkan potensi tiap atlet.

Hendrawan juga memberi apresiasi kepada orang tua dan para pelatih yang mendampingi peserta sepanjang proses audisi. Pesan yang ia tekankan: hasil seleksi di satu tahap tidak lantas menjadi penentu akhir perjalanan seorang atlet.

Bagi sembilan atlet yang lolos, kesempatan ini menjadi pintu masuk ke ekosistem pembinaan PB Djarum. Tuntutan berikutnya jelas — menyesuaikan diri dengan ritme latihan klub dan bersiap menghadapi persaingan di kelompok umur yang lebih tinggi.

Reporter: Endra Sanjaya
Sumber: sports.sindonews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top