MAKASSAR — Ketua Tim Bidang Meteorologi BMKG Sulsel, Rizky Yudha, mengatakan konsentrasi partikulat PM2,5 yang sebelumnya berada di atas ambang kategori tidak sehat kini mulai melandai. Sejak Minggu siang hingga Senin, indeks berada pada rentang 15 sampai 55,5 mikrogram per meter kubik atau masuk kategori sedang.
Secara visual, langit Makassar yang sempat terlihat kelabu juga mulai berkurang. Aroma asap yang sebelumnya menyengat tidak lagi tercium.
BMKG mengungkap analisis bahwa sumber utama polusi berasal dari kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sulawesi Selatan dan sekitarnya. Rizky menyebut laporan BPBD mencatat sekitar 20 hektar wilayah pegunungan di Kabupaten Pangkep yang terbakar, serta sekitar 6 hektar di Kabupaten Bantaeng.
Asap dan material partikulat dari kebakaran itu terbawa pergerakan angin dan bertahan di atmosfer. Partikel hasil pembakaran terakumulasi di udara hingga memengaruhi kualitas udara di kawasan perkotaan.
Meski karhutla lokal disebut sebagai sumber utama, asap dari wilayah lain seperti Kalimantan turut memberikan kontribusi. Namun, kontribusinya dinilai lebih kecil dibandingkan sumber dari wilayah Sulsel sendiri.
Rizky menjelaskan partikel dari luar Sulawesi Selatan tetap dapat terbawa angin dan memengaruhi kondisi udara. "Jadi sumber utamanya kami analisis sih dari yang di wilayah Sulawesi sendiri seperti itu. Meskipun yang di wilayah lainnya itu juga memberikan kontribusi meskipun kecil," katanya.
Sebelumnya, sejak tanggal 30 hingga tanggal 4, kategori kualitas udara berada di level tidak sehat dengan konsentrasi PM2,5 di atas 55,5 mikrogram per meter kubik. "Mulai kemarin siang sampai hari ini, indeksnya turun dalam kategori sedang, atau berkisar antara 15 sampai 55,5 mikrogram per meter kubik," jelas Rizky.
Perbaikan kualitas udara ini memberi kelonggaran bagi warga Makassar yang sempat terpapar polusi partikulat dalam beberapa hari terakhir. BMKG masih memantau pergerakan angin dan potensi karhutla susulan di wilayah Sulsel.