JENEPONTO — Ratusan anak dan pemangku kepentingan memadati Aula Kalabbirang, Rumah Jabatan Bupati Jeneponto, untuk mengikuti Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) Tingkat Kabupaten Tahun 2026. Mengusung tema "Sayang Anak, Lindungi & Bangun Masa Depan", kegiatan ini menjadi penegasan bahwa perlindungan anak bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan kebutuhan bersama.
Ketua panitia, Sukardi Sulaeman, melaporkan bahwa peringatan ini diikuti sekitar 200 peserta dan tamu undangan. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, rangkaian acara tahun ini diperkaya dengan lomba mewarnai, kuis Ranking Satu, drama musikal, hingga lomba poster yang melibatkan anak-anak dari berbagai kecamatan.
Momen paling dinanti dalam acara tersebut adalah pembacaan Suara Anak Kabupaten Jeneponto oleh Duta Anak Tahun 2026. Lewat forum ini, anak-anak menyuarakan harapan mereka tentang lingkungan yang aman, pendidikan yang layak, dan ruang berekspresi yang lebih luas.
Hj. Salmawati Paris menegaskan bahwa Forum Anak harus menjadi jembatan antara pemerintah dan anak-anak di daerah. "Kami berharap anak-anak, Forum Anak Jeneponto dapat terus berperan aktif, menyampaikan suara dan kebutuhan anak, serta mengambil bagian dalam berbagai kegiatan positif di daerah," ujarnya. "Dan tentunya kita harus berkomitmen lindungi anak-anak kita," sambung Bunda Forum Anak tersebut.
Sekretaris Daerah Kabupaten Jeneponto, Dr. Aspa Muji, saat membuka acara secara resmi mengingatkan bahwa persoalan perlindungan anak tidak bisa diselesaikan pemerintah sendirian. Ia menekankan pentingnya peran keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam memastikan tumbuh kembang anak berjalan optimal.
"Anak-anak harus tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, nyaman dan penuh kasih sayang. Karena itu, menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memastikan mereka mendapatkan kesempatan yang baik dalam tumbuh dan berkembang," tegas Aspa Muji di hadapan para tamu undangan.
Senada dengan itu, Ketua Gugah Nurani Indonesia (GNI), Edwardus Ada, menyoroti pentingnya ruang bagi anak untuk mengembangkan potensi dan kreativitas. Menurutnya, lingkungan yang mendukung proses tumbuh kembang anak adalah investasi jangka panjang bagi masa depan daerah.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Jeneponto, Dr. Farida Mappatunru, menjelaskan bahwa rangkaian lomba yang digelar bukan sekadar hiburan. Kegiatan tersebut dirancang sebagai wadah aktualisasi diri anak-anak Jeneponto.
"Berbagai kegiatan tersebut menjadi wadah bagi anak-anak untuk menyalurkan kreativitas, meningkatkan kepercayaan diri, sekaligus berpartisipasi dalam kegiatan positif," kata Farida. Puncak acara ditandai dengan pengumuman pemenang lomba dan penyerahan hadiah, kemudian ditutup dengan foto bersama seluruh peserta.
Melalui peringatan HAN tahun ini, Pemerintah Kabupaten Jeneponto menegaskan kembali komitmennya membangun lingkungan ramah anak. Dengan adanya pembacaan Suara Anak, diharapkan kebijakan ke depan benar-benar berpihak pada kepentingan terbaik anak, bukan hanya di atas kertas.