SULAWESI SELATAN — Kegelisahan tentang gunungan sampah organik yang tidak terkelola kerap menjadi pemandangan umum di berbagai daerah. Bank Mandiri Taspen mencoba menawarkan solusi yang lebih produktif dengan mengubah limbah tersebut menjadi komoditas bernilai jual tinggi, sekaligus menghidupkan roda ekonomi bagi mereka yang sudah tidak aktif bekerja.
Melalui kolaborasi dengan ITB, perusahaan pelat merah yang fokus melayani nasabah pensiunan ini menginisiasi program pemberdayaan yang terintegrasi. Rangkaian kegiatannya mencakup penanganan sampah organik secara sistematis, budidaya magot (larva lalat Black Soldier Fly) yang dikenal sebagai agen pengurai sampah, hingga pengembangan peternakan unggas.
Sisa olahan magot atau yang dikenal dengan nama kasgot, juga masih bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik berkualitas. Dari satu mata rantai pengolahan limbah, program ini menghasilkan setidaknya tiga produk ekonomi: magot segar, unggas siap jual, dan pupuk. Pendekatan ini memastikan tidak ada sumber daya yang terbuang sia-sia dan seluruh prosesnya memiliki nilai jual.
Keterlibatan para pensiunan dalam program ini menjadi nilai plus tersendiri. Mereka tidak hanya diposisikan sebagai penerima bantuan, tetapi juga sebagai subjek penggerak yang aktif mengelola unit-unit usaha tersebut. Hal ini sejalan dengan misi Bank Mandiri Taspen untuk terus hadir memberikan manfaat nyata bagi para purnatugas di Indonesia.
Dengan adanya transfer ilmu ini, masyarakat tidak hanya bergantung pada bantuan modal, tetapi juga memiliki kapabilitas untuk mengembangkan usaha secara mandiri. Secara tidak langsung, program ini turut berkontribusi mengurangi volume sampah yang diangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA) dan menciptakan lingkungan yang lebih bersih.
Inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan Bank Mandiri Taspen dalam menjalankan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Perusahaan berharap model pemberdayaan berbasis ekonomi sirkular ini dapat direplikasi di wilayah lain, sehingga dampak positifnya bisa dirasakan lebih luas oleh komunitas pensiunan di berbagai penjuru negeri.
Kolaborasi antara korporasi dan akademisi seperti ini membuktikan bahwa pengelolaan sampah tidak selalu identik dengan biaya tinggi, melainkan bisa menjadi ladang ekonomi baru yang inklusif.