Konferensi Keamanan Siber USENIX Rekor 3.030 Makalah, AI Bantu Penulisan tapi Memicu Penolakan Massal

Penulis: Aditya Nugraha  •  Jumat, 07 Agustus 2026 | 19:27:01 WIB
Rekor submisi makalah keamanan siber USENIX mencapai 3.030, naik dari sekitar 2.400 edisi sebelumnya.

Jumlah tersebut melonjak dari sekitar 2.400 submisi pada edisi sebelumnya. Ben Stock, profesor tetap di CISPA Helmholtz Center for Information Security sekaligus ketua program USS, mengatakan pertumbuhan ini sejalan dengan tren industri, merujuk pada simposium NDSS yang melonjak dari 694 makalah pada 2024 menjadi 1.481 tahun ini. "Jadi, saya tidak menyebut pertumbuhan ini belum pernah terjadi sebelumnya, meskipun jumlahnya mencapai titik tertinggi," ujarnya kepada The Register.

Deteksi Referensi Haluan dan PC yang Melanggar Etika

Untuk menyaring makalah yang tidak memenuhi standar ilmiah, panitia mengembangkan perangkat lunak khusus. Alat ini mengekstrak daftar referensi dari PDF yang dikirim, mencocokkannya dengan basis data akademik seperti DBLP dan arXiv, lalu memverifikasi manual hasil yang mencurigakan.

Kebijakan ini berhasil menjaring 21 makalah dari 1.181 submisi putaran pertama (1,78 persen) yang mengandung tiga atau lebih referensi fiktif. "Kami tidak bisa memastikan itu semua halusinasi AI, tapi kami anggap bermasalah dan menolaknya," tegas Stock. Lebih dari 100 paper lain memiliki satu referensi yang tak bisa dikonfirmasi, namun panitia memilih tidak menyelidiki lebih jauh demi membatasi beban kerja staf.

Lima Reviewer Dikeluarkan karena Pakai AI untuk Menulis Ulasan

Panitia juga menarik garis tegas bagi para peninjau makalah. Penggunaan layanan AI untuk menulis review dilarang keras, terutama karena melanggar kerahasiaan. Dari 496 anggota program committee, lima orang diminta mundur karena terbukti menggunakan AI.

"Kami mendeteksi sejumlah kecil kasus yang cukup yakin AI digunakan, lalu mengambil tindakan termasuk mengeluarkan anggota dari PC dan mengizinkan penulis yang terdampak untuk mengirim ulang," kata Stock. Meski demikian, ia menegaskan tidak ada bukti bahwa makalah yang sepenuhnya dihasilkan AI menjadi tantangan besar bagi komunitas keamanan siber.

AI untuk Memoles Bahasa: Diperbolehkan, tapi Ada Batasnya

Menariknya, panitia tidak menerapkan kebijakan AI yang kaku untuk penulis. Penggunaan AI secara terbatas untuk memperhalus teks yang sudah ditulis manusia justru dianggap wajar, termasuk untuk mereka yang menulis ulasan. Namun, konferensi menolak keras penggunaan AI untuk menyusun daftar pustaka.

"Kami percaya penting menghentikan tren yang mengancam integritas ilmiah ini sebelum tumbuh lebih jauh," tulis laporan transparansi USS 2026. Sikap ini diambil di tengah temuan riset April lalu yang menunjukkan volume submisi jurnal akademik besar meningkat 42 persen sejak ChatGPT dirilis pada 2022.

Bagi akademisi dan peneliti Indonesia yang kerap mengirim karya ke konferensi internasional, kebijakan ini menjadi sinyal penting: AI boleh membantu, tapi tidak untuk menggantikan kerja intelektual inti. Menyalin referensi tanpa verifikasi atau menyerahkan proses review pada mesin adalah pelanggaran yang berujung pada hukuman berat.

Reporter: Aditya Nugraha
Sumber: theregister.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top