MAKASSAR — Persaingan menuju Pemilu Legislatif (Pileg) 2029 di Sulawesi Selatan mulai memanas sejak sekarang. Partai Gerindra dan Golkar kompak memasang target tinggi untuk menggeser dominasi Partai NasDem yang saat ini bercokol di posisi pertama dengan 17 kursi DPRD Sulsel hasil Pileg 14 Februari 2024 lalu.
Ketua DPD Gerindra Sulsel, Andi Iwan Darmawan Aras (AIA), mengaku telah mendapat mandat penuh dari DPP untuk memenangkan partai berlambang kepala garuda di Sulsel. Target yang dipasang cukup berani, yakni meloloskan 17 hingga 19 kadernya ke DPRD Sulsel.
"Gerindra punya target meloloskan 17 hingga 19 kadernya ke DPRD Sulsel," ujar AIA yang juga menjabat Wakil Ketua Komisi V DPR RI ini.
Di sisi lain, Ketua DPD I Golkar Sulsel terpilih, Ilham Arief Sirajuddin (IAS), mendapat target langsung dari Ketua Umum DPP Golkar, Bahlil Lahadalia, untuk merebut kembali kemenangan. IAS bukannya tanpa modal; ia pernah meraup 1.785.580 suara pada Pilgub Sulsel 22 Januari 2013 silam.
Di hadapan Bahlil dan pengurus DPP lainnya, IAS mengaku optimistis dan siap memenuhi target tersebut. Saat ini Golkar berada di urutan kedua dengan raihan 14 kursi, unggul satu kursi dari Gerindra yang mengantongi 13 kursi.
Menghadapi dua rival berat, Partai NasDem bukannya diam. Sekretaris DPW NasDem Sulsel, Andi Rachmatika Dewi Y, menegaskan partainya akan bekerja maksimal untuk mempertahankan gelar juara.
"NasDem tentu akan bekerja maksimal untuk mempertahankan kemenangan yang telah diraih," kata Cicu, sapaan akrabnya, di sela konsolidasi baru-baru ini.
Ketua DPRD Sulsel itu menilai konsolidasi menjadi momentum penting untuk memperkuat semangat kader. Ia mengklaim seluruh struktur partai di 380 kecamatan akan dirapikan melalui rapat kerja wilayah dan rapat kerja daerah pemilihan (dapil) dari Dapil 1 hingga Dapil 11.
"Konsolidasi ini semakin memberikan semangat bagi kita untuk menyongsong kemenangan pada pemilu berikutnya. Tetap semangat, insyaallah Nasdem tetap juara di Sulsel," tegas Cicu.
Di tengah optimisme pengurus pusat, politisi senior Golkar John Rende Mangontan (JRM) justru memberi sinyal bahaya. Ia memprediksi partainya bakal kesulitan mempertahankan dua kursi DPRD Sulsel di Dapil 10 yang meliputi Tana Toraja dan Toraja Utara.
Penyebabnya, kekuatan utama Golkar di daerah itu melemah. Yohanes Bassang (Ombas) kalah sebagai bupati petahana dan Theofilus Allorerung juga bukan lagi bupati Tana Toraja. Meski istri dan anak keduanya terpilih di Senayan dan DPRD Sulsel, JRM menilai kerja politik mereka akan berbeda tanpa dukungan birokrasi.
"Dapil 10 Sulsel pasti menurun suaranya juga karena kemarin kekuatan besar yakni Ombas, Theopilus Alloerung dan JRM, sehingga Golkar merebut dua kursi DPRD Sulsel," ujar JRM yang kini sudah tidak aktif tersebut.
Ia bahkan menyebut pergerakan kader Golkar bisa terkunci oleh dua bupati kader Gerindra, Dr Zadrak Tombeq dan Dedy Palimbong. JRM menyarankan strategi yang lebih matang untuk mengantisipasi hal ini.
Pengamat Sosiologi Politik FISIP Universitas Hasanuddin (Unhas), Andi Haris, menilai upaya menggeser partai yang massanya dominan bukan pekerjaan mudah. Apalagi jika elit partai tersebut dianggap kredibel oleh publik.
Menurutnya, pemilih kini semakin cerdas dan tidak mudah terpengaruh sekadar janji atau popularitas. Yang paling menentukan adalah bukti kerja nyata yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
"Maksudnya, yang paling penting bagi warga masyarakat adalah bukti yang bisa langsung bersentuhan dengan kebutuhan mereka," jelas Andi Haris.
Ia menambahkan bahwa partai yang akan dipilih adalah yang cepat merespons kebutuhan masyarakat. Parpol harus bekerja keras dalam mengagregasi dan mengartikulasikan kepentingan warga, bukan hanya sekadar memasang target kursi di atas kertas.