SULAWESI SELATAN — Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) merilis data penjualan periode Januari-Juni 2026. Dari total distribusi pabrik ke diler sebanyak 436.564 unit, pangsa pasar terbesar masih dikuasai Toyota dengan 133.928 unit atau 30,7 persen. Disusul Daihatsu (73.545 unit), Suzuki (36.319 unit), dan Mitsubishi Motors (32.588 unit).
BYD mencatatkan wholesales 23.257 unit, cukup untuk merebut peringkat kelima dari Honda yang hanya membukukan 20.673 unit. Selisihnya 2.584 unit—masih cukup nyaman. Tapi cerita berbeda di penjualan ritel.
Di level diler ke konsumen, Honda masih bertahan di posisi kelima dengan 23.847 unit. BYD hanya terpaut 659 unit dengan 23.188 unit. Artinya, jarak kedua merek di ritel sangat tipis dan bisa berbalik dalam satu bulan penjualan.
Kejutan lain datang dari Jaecoo. Merek asal China ini menembus delapan besar penjualan nasional dengan wholesales 17.334 unit dan ritel 16.986 unit. Angka itu langsung menempatkan Jaecoo di atas Wuling, Hyundai, dan Geely—merek yang sudah lebih dulu membangun pabrik dan jaringan dealer di Indonesia.
Pencapaian Jaecoo dalam waktu relatif singkat menunjukkan strategi produk dan penetrasi pasar yang agresif. Model andalan mereka, Jaecoo J7, disebut-sebut menjadi kontributor utama penjualan.
Data Gaikindo ini menegaskan satu hal: dominasi merek Jepang di papan atas mulai terusik. BYD dan Jaecoo membuktikan bahwa konsumen Indonesia tidak lagi alergi terhadap mobil China, terutama jika produknya menawarkan fitur setara atau lebih baik dengan harga kompetitif.
Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin pada semester II 2026 atau awal 2027, peta persaingan lima besar akan berubah total. Honda, yang selama bertahun-tahun menjadi pemain kuat di segmen SUV dan MPV, kini harus bekerja ekstra keras untuk mempertahankan posisinya dari gempuran BYD yang agresif di segmen mobil listrik.