SULAWESI SELATAN — Selama ini potensi angin Indonesia kerap luput dari peta prioritas energi terbarukan. Pembahasan lebih sering didominasi tenaga surya, air, dan panas bumi. Padahal, kajian teknis Bank Dunia dan ESMAP memperkirakan potensi energi angin lepas pantai (offshore wind) Indonesia bisa mencapai 277 GW dalam radius 200 km dari garis pantai. Angka itu terdiri dari 198 GW fixed bottom dan 79 GW floating offshore wind.
Kementerian ESDM sendiri mencatat potensi total energi angin Indonesia sekitar 155 GW, dengan rincian 60,6 GW di darat dan 94,2 GW di laut. Perbedaan angka ini bukan pertentangan, melainkan perbedaan asumsi dan metodologi. Namun keduanya sepakat: Indonesia punya ruang sangat besar untuk membangun industri energi angin.
Keberhasilan PLTB Sidrap dan PLTB Tolo Jeneponto membuktikan bahwa pembangkit listrik tenaga bayu skala utilitas bisa beroperasi andal di Indonesia. Dua proyek itu seharusnya menjadi titik awal, bukan tujuan akhir. Tahap berikutnya adalah memperbanyak proyek, meningkatkan kualitas data angin, dan memperkuat jaringan transmisi.
Lokasi potensi angin terbaik umumnya jauh dari pusat konsumsi listrik. Karena itu, pembangunan transmisi menjadi kunci agar listrik dari angin bisa sampai ke kawasan industri dan perkotaan. Tanpa itu, potensi besar hanya akan tinggal kertas.
Kompleksitas proyek angin lepas pantai justru membawa nilai ekonomi lebih besar. Di balik setiap proyek ada kebutuhan baja, kabel bawah laut, fondasi, kapal instalasi, pelabuhan logistik, jasa rekayasa, hingga tenaga kerja teknik. Nilai tambahnya tidak berhenti pada listrik yang dihasilkan, tetapi berkembang menjadi ekosistem industri baru.
Indonesia punya modal yang tidak dimiliki banyak negara berkembang. Selama puluhan tahun, kemampuan industri migas lepas pantai terbangun: insinyur, kontraktor, operator, pelabuhan, kapal pendukung, dan pengalaman operasi di laut. Kapabilitas itu seharusnya menjadi jembatan menuju industri energi laut rendah karbon.
Agar peluang ini benar-benar terwujud, setidaknya ada empat agenda besar yang perlu diprioritaskan. Pertama, membangun basis data angin yang lebih akurat dan bankable agar risiko proyek bisa ditekan sejak awal. Kedua, memperkuat jaringan transmisi karena lokasi angin terbaik jauh dari pusat konsumsi.
Ketiga, menghadirkan skema pembiayaan yang kompetitif melalui kepastian regulasi, blended finance, green bond, dan dukungan lembaga multilateral. Keempat, membangun rantai pasok nasional agar nilai tambah proyek benar-benar dinikmati di dalam negeri.
Kebutuhan listrik nasional terus meningkat seiring industrialisasi, hilirisasi, digitalisasi, dan pertumbuhan pusat data. Di saat pasar global menuntut produk rendah karbon, kemampuan menyediakan listrik bersih, andal, dan kompetitif bukan lagi isu lingkungan, melainkan penentu daya saing ekonomi. Energi angin layak mendapat ruang yang jauh lebih besar dalam strategi itu.