MAKASSAR — OJK Sulselbar mencatat total investor pasar modal di Sulawesi Selatan mencapai 693.135 SID pada April 2026. Angka itu tumbuh 67,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari total tersebut, investor reksa dana mendominasi dengan pangsa 95,8 persen.
Kepala OJK Sulselbar Moch. Muchlasin mengatakan, jumlah investor reksa dana melesat dari 394.238 SID pada April 2025 menjadi 664.257 SID pada April 2026. “Pertumbuhan paling tinggi terjadi pada instrumen reksa dana,” kata Muchlasin dalam rilis resmi, Senin (29/6/2026) lalu.
Instrumen saham mencatat pertumbuhan 46,88 persen yoy. Jumlah investor saham mencapai 204.519 SID pada April 2026, naik dari 139.242 SID setahun sebelumnya. Sementara itu, investor SBN tumbuh 25,22 persen menjadi 22.977 SID pada periode yang sama.
Jika dibandingkan dengan posisi Desember 2025, seluruh instrumen juga menunjukkan tren kenaikan. Investor reksa dana bertambah dari 499.226 SID menjadi 664.257 SID, investor saham naik dari 180.427 SID ke 204.519 SID, dan investor SBN meningkat dari 21.480 SID ke 22.977 SID.
Muchlasin menjelaskan, pertumbuhan investor reksa dana yang tinggi menunjukkan semakin luasnya partisipasi masyarakat dalam pasar modal. “Ini juga mencerminkan meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap pentingnya investasi sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang,” ujarnya.
Dibandingkan akhir 2024, jumlah investor saham naik dari 128.450 SID menjadi 204.519 SID. Investor reksa dana melonjak dari 382.598 SID menjadi 664.257 SID, sedangkan investor SBN bertambah dari 17.938 SID menjadi 22.977 SID. Data ini memperkuat tren bahwa instrumen reksa dana menjadi pintu masuk utama bagi investor ritel di Sulsel.
OJK Sulselbar menilai pertumbuhan ini sejalan dengan penguatan inklusi keuangan di daerah melalui pemanfaatan berbagai instrumen investasi yang tersedia. Masyarakat kini semakin sadar bahwa investasi bukan lagi sekadar tabungan, melainkan bagian dari strategi keuangan jangka panjang.