SULAWESI SELATAN — Gas bumi yang selama ini tidak tersentuh di Lapangan Sengeti bakal segera mengalir ke pelanggan. PGN, sebagai Subholding Gas Pertamina, memutuskan untuk mengubah cadangan yang terkatung-katung itu menjadi sumber energi berkelanjutan. Rencana ini bukan sekadar proyek eksplorasi baru, melainkan upaya mengatasi masalah klasik di hulu migas: gas yang sudah ditemukan tapi tidak bisa diproduksi karena keterbatasan infrastruktur.
Selama bertahun-tahun, Lapangan Sengeti masuk kategori stranded gas. Artinya, cadangan gas di lokasi itu sudah terkonfirmasi, tapi secara ekonomis belum layak diangkut ke pasar karena jauh dari jaringan pipa utama. PGN melihat potensi ini dan berencana membangun koneksi agar gas tersebut bisa dimanfaatkan.
Direktur Utama PGN, Arief Setiawan Handoko, mengatakan proyek ini akan mengubah tantangan geografis menjadi peluang. "Kami akan menghubungkan Lapangan Sengeti dengan infrastruktur eksisting PGN. Targetnya, pasokan bisa mengalir ke pelanggan industri dan rumah tangga dalam dua hingga tiga tahun ke depan," ujarnya dalam keterangan resmi.
Tambahan pasokan dari Sengeti diperkirakan mencapai 20-30 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Volume ini cukup untuk memasok kebutuhan gas beberapa kawasan industri di Sumatera bagian selatan. Dengan adanya tambahan ini, PGN berharap bisa menekan harga gas di tingkat pengguna, terutama sektor pupuk dan manufaktur yang selama ini mengeluhkan mahalnya biaya energi.
Bagi Pertamina Group, proyek ini juga memperkuat posisi PGN sebagai pengelola infrastruktur gas terintegrasi. Alih-alih membiarkan gas menganggur di perut bumi, perusahaan memilih mengubahnya menjadi pemasukan dan pasokan yang stabil. Langkah ini sejalan dengan arahan Kementerian BUMN untuk meningkatkan nilai tambah aset yang selama ini tidak produktif.
Meski potensinya besar, proyek ini tidak tanpa hambatan. PGN harus membangun pipa koneksi sepanjang puluhan kilometer dari Sengeti ke jaringan utama yang sudah ada. Medan di lokasi juga cukup menantang, sebagian melewati lahan gambut dan perkebunan. Perusahaan mengaku sudah melakukan studi kelayakan dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat.
Proses konstruksi pipa ditargetkan dimulai pada kuartal pertama tahun depan. Jika berjalan sesuai jadwal, gas dari Sengeti bisa mulai mengalir pada 2026. PGN juga membuka peluang kerja sama dengan kontraktor lokal untuk mempercepat pembangunan infrastruktur di lapangan.
Keberhasilan proyek Sengeti bisa menjadi model bagi pengelolaan stranded gas di lapangan-lapangan lain di Indonesia. Selama ini, banyak cadangan gas kecil dan menengah yang mangkrak karena tidak ekonomis jika dikembangkan sendiri. Dengan pendekatan integrasi infrastruktur seperti yang dilakukan PGN, potensi gas yang terabaikan itu perlahan bisa menyumbang pasokan energi nasional.