Mahasiswa UNAIR Ubah Kulit Singkong dan Limbah Besi Jadi "Penyedot" Racun Nikel

Penulis: Aditya Nugraha  •  Senin, 15 Juni 2026 | 17:45:01 WIB
Mahasiswa UNAIR mengembangkan adsorben dari kulit singkong dan limbah besi untuk menyerap racun nikel.

SULAWESI SELATAN — Limbah pertanian dan residu pabrik peleburan besi selama ini dipandang sebagai barang tak berguna. Namun, bagi lima mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR), dua jenis limbah itu justru menjadi bahan baku utama untuk menjinakkan racun dari pertambangan nikel.

Tim yang digawangi Sulaiman Fadhli, Muhammad Haris Afta Firdaus, Ahmad Soleh, Ahmad Zaydan Taqiyuddin, dan Layla Lubna Irwandy ini meracik komposit dari tiga material: zeolit alam, karbon aktif kulit singkong, dan Fe3O4 (magnetit) yang diambil dari slag besi. Hasilnya adalah adsorben yang dirancang khusus untuk menyerap Kromium Heksavalen atau Cr(VI), logam berat toksik yang kerap mencemari lingkungan sekitar area tambang nikel.

Kulit Singkong dan Slag Besi: Dari Sampah Jadi Penyelamat Lingkungan

Keunggulan inovasi ini terletak pada sinergi tiga bahan yang saling melengkapi. Kulit singkong—yang selama ini hanya menjadi limbah pertanian—dibakar dan diaktivasi menjadi karbon aktif dengan pori-pori rapat. Pori-pori inilah yang bertugas "menjebak" ion-ion logam berat.

Zeolit alam, yang cadangannya melimpah di Indonesia, berfungsi sebagai media penyerap dengan kemampuan pertukaran ion yang tinggi. Sementara itu, magnetit dari slag besi tidak hanya meningkatkan daya serap, tetapi juga memudahkan proses pemisahan adsorben dari air limbah setelah digunakan.

"Kombinasi ketiga bahan tersebut menghasilkan komposit adsorben yang dirancang untuk mengurangi kandungan Cr(VI) pada limbah tambang nikel secara lebih efektif dibandingkan penggunaan material tunggal," demikian penjelasan tim dalam riset mereka.

Mengapa Ini Penting bagi Industri Nikel?

Industri nikel merupakan tulang punggung hilirisasi mineral dan ekosistem kendaraan listrik nasional. Namun, aktivitas pertambangan dan pengolahan nikel menghasilkan limbah cair yang mengandung Cr(VI), senyawa yang dikenal sangat beracun dan sulit diurai secara alami.

Selama ini, perusahaan tambang mengandalkan bahan kimia impor atau adsorben sintetis yang mahal untuk mengolah limbah tersebut. Inovasi mahasiswa UNAIR menawarkan alternatif yang lebih ekonomis karena bahan bakunya—kulit singkong dan slag besi—tersedia melimpah di dalam negeri dengan harga murah.

Pendekatan ini juga sejalan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang kini menjadi syarat utama bagi perusahaan tambang untuk mendapatkan pendanaan dan izin operasi. Konsep ekonomi sirkular—mengubah limbah menjadi produk bernilai tambah—menjadi nilai jual tersendiri.

Target ke Depan: Uji Coba Skala Industri

Saat ini, inovasi tersebut masih berada pada tahap pengembangan dan pengujian laboratorium. Tim mahasiswa UNAIR menargetkan pengujian dalam skala yang lebih besar untuk memastikan efektivitas dan kelayakan teknis sebelum ditawarkan ke perusahaan tambang.

Dengan ketersediaan bahan baku yang melimpah serta biaya produksi yang rendah, teknologi adsorben berbasis limbah ini berpotensi menjadi solusi praktis bagi perusahaan tambang nikel yang ingin meningkatkan kinerja lingkungan tanpa harus membengkakkan biaya operasional. Jika berhasil, kulit singkong dan slag besi yang selama ini diabaikan bisa menjadi senjata rahasia dalam perang melawan polusi logam berat.

Reporter: Aditya Nugraha
Sumber: tambang.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top