Rupiah Tertekan ke Rp17.844, Konflik Timur Tengah dan Arus Valas Jadi Beban

Penulis: Chandra Kusuma  •  Senin, 01 Juni 2026 | 10:37:01 WIB
Rupiah melemah ke Rp17.844 seiring tekanan dari konflik Timur Tengah dan arus valuta asing.

SULAWESI SELATAN — Mata uang Garuda bergerak seiring pelemahan mayoritas mata uang kawasan. Yen Jepang turun 0,14 persen, baht Thailand melemah 0,17 persen, dan won Korea Selatan menjadi yang terburuk dengan koreksi 0,71 persen. Dolar Singapura dan dolar Hong Kong juga tak luput dari tekanan, masing-masing melemah 0,11 persen dan 0,01 persen.

Konflik Global dan Data Domestik Jadi Penekan Ganda

Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah saat ini berada dalam fase konsolidasi. Dua faktor utama yang menjadi penekan adalah perang dagang dan geopolitik AS-Iran yang masih limbung, serta antisipasi pasar terhadap rilis data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia pada Selasa (2/6).

"Investor masih wait and see perkembangan kesepakatan AS-Iran. Selain itu, mereka juga mengantisipasi data penting domestik besok. Harga minyak yang sudah menurun bisa menjadi katalis positif bagi rupiah," ujar Lukman.

BI Soroti Lonjakan Kebutuhan Dolar Musiman

Bank Indonesia (BI) mencatat tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor eksternal. Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa kebutuhan valuta asing di dalam negeri meningkat secara musiman. Hal ini dipicu oleh pembayaran utang luar negeri (ULN) korporasi dan repatriasi dividen kepada investor asing.

"Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah," kata Ramdan dalam pernyataan resminya pada Jumat (29/5).

Ia menambahkan, arus masuk dolar AS yang terbatas turut memperburuk situasi di tengah tingginya permintaan. BI memastikan akan terus melakukan intervensi di pasar untuk menjaga stabilitas kurs.

Apa Artinya bagi Pelaku Usaha?

Pelemahan rupiah ke level psikologis Rp17.800-an per dolar AS memberikan sinyal langsung kepada perusahaan yang memiliki utang dalam denominasi dolar atau yang bergantung pada bahan baku impor. Biaya produksi berpotensi naik dalam waktu dekat jika tekanan ini berlanjut.

Bagi investor, pergerakan kurs menjadi indikasi bahwa sentimen risiko global masih tinggi. Pasar obligasi dan saham biasanya ikut tertekan ketika nilai tukar melemah signifikan karena investor asing cenderung melakukan aksi lindung nilai atau menarik dana.

Rentang pergerakan rupiah hari ini diperkirakan berada di Rp17.750 hingga Rp17.800 per dolar AS. Pasar menunggu data inflasi dan perdagangan besok untuk menentukan arah selanjutnya.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Chandra Kusuma
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top