MAKASSAR — Sekretaris Daerah Sulawesi Selatan Jufri Rahman menyatakan buku "Safe Space" karya Abz layak menjadi bahan bacaan pendamping di sekolah-sekolah. Buku ini dinilai mampu menggambarkan pengalaman traumatis yang dialami anak di lingkungan pendidikan, sekaligus menjadi alat mitigasi agar kejadian serupa tidak terulang.
Dari Pengalaman Pahit di Pesantren Menjadi Buku Bergambar
Abz menuliskan kisahnya saat menempuh pendidikan di salah satu pondok pesantren di Sulawesi Selatan. Ia mengaku menjadi korban kekerasan dan pemaksaan oleh oknum senior untuk menggunakan vape yang diduga mengandung zat adiktif.
“Anak ini hebat karena berhasil menceritakan pengalamannya melalui cerita bergambar,” ujar Jufri Rahman dalam keterangannya di Makassar, Kamis.
Pesan Sekda: Bukan Sekadar Cerita, Tapi Pelajaran Mitigasi
Jufri menekankan bahwa buku ini bukan hanya tentang keberanian menyampaikan pengalaman, tetapi juga membangun kesadaran akan lingkungan belajar yang aman. “Ini bisa menjadi pembelajaran untuk langkah mitigasi, mengajarkan anak kita agar tidak melakukan hal yang sama dan lebih berhati-hati dalam berteman,” katanya.
Ia menambahkan, pihak pesantren telah mengambil langkah penanganan sesuai kewenangan karena pelaku masih berstatus anak. Abz saat ini mengikuti pembelajaran secara daring dan mulai menunjukkan proses pemulihan. “Semoga karyanya menjadi pelajaran berharga bagi banyak anak,” ujarnya.
Harapan dari UPT PPA: Dorong Anak Lain Berani Lapor
Kepala Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak (UPT PPA) Sulsel Yessy Yoanna Ariestiani berharap kisah Abz dapat mendorong lebih banyak anak untuk berani menyampaikan pengalaman yang dialami. “Kami berharap anak-anak lain tidak takut melaporkan apabila menjadi korban kekerasan,” katanya.
Buku “Safe Space” dinilai menjadi medium yang efektif untuk menyampaikan pesan perlindungan anak secara visual dan emosional. Pemerintah Provinsi Sulsel berencana mendistribusikan buku ini ke sekolah-sekolah sebagai bahan bacaan pendamping.