MAKASSAR — Pergerakan rupiah pada awal perdagangan hari ini dipengaruhi oleh tekanan yang masih membayangi dolar AS di pasar global. Indeks dolar AS tercatat stabil, namun sentimen negatif masih kuat setelah data ketenagakerjaan AS pekan lalu menunjukkan hasil yang lebih lemah dari perkiraan.
Pelemahan dolar AS terjadi setelah laporan nonfarm payrolls (NFP) Juni mencatat pertumbuhan lapangan kerja yang melambat tajam. Data tersebut, ditambah dengan penurunan harga minyak, meredakan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada bulan Juli.
Dolar AS Catat Kinerja Mingguan Terburuk Sejak April
Tekanan terhadap greenback semakin nyata setelah sebelumnya dolar AS mencatat kinerja mingguan paling buruk sejak April. Sejumlah ekonom menilai perlambatan penciptaan lapangan kerja yang lebih buruk dari ekspektasi merupakan dampak tertunda dari konflik Timur Tengah.
Konflik tersebut dinilai turut mendorong kenaikan harga bensin dan tekanan inflasi di AS, yang pada akhirnya mempengaruhi prospek kebijakan moneter bank sentral AS.
BI Rilis Cadangan Devisa Juni 2026 Hari Ini
Dari sisi domestik, pasar tengah mencermati rilis cadangan devisa Indonesia untuk Juni 2026 yang dijadwalkan pada Selasa (7/7) oleh Bank Indonesia. Data sebelumnya menunjukkan posisi cadangan devisa pada periode sebelumnya mengalami penurunan menjadi US$144,9 miliar.
Penurunan tersebut disebabkan oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah serta intervensi stabilisasi rupiah yang dilakukan BI. Meski turun, posisi tersebut dinilai masih sangat aman karena mampu membiayai 5,6 bulan impor atau berada di atas standar kecukupan internasional.
Peningkatan cadangan devisa menjadi salah satu fokus utama pelaku pasar di tengah tekanan yang masih membayangi nilai tukar rupiah beberapa waktu terakhir.