SULAWESI SELATAN — Di balik angka laba yang tampak gemilang, kondisi fundamental Krakatau Steel masih jauh dari sehat. Direktur Utama Krakatau Steel Akbar Djohan secara terbuka mengakui bahwa capaian tersebut bergantung pada dukungan pembiayaan dari pihak eksternal, bukan dari produktivitas operasional internal.
"Dukungan pendanaan dan kepercayaan dari Danantara menjadi pendorong utama bagi kami untuk terus berbenah. Laba ini adalah titik awal yang kami sikapi dengan rendah hati," ujar Akbar dalam keterangan resmi, Sabtu, 27 Juni 2026.
Kerugian Akumulasi Rp34 Triliun dan Beban Pajak Melonjak
Berdasarkan data laporan keuangan, akumulasi kerugian perseroan hingga akhir Desember 2025 tercatat USD2,15 miliar. Meskipun angka ini turun 17,04 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar USD2,45 miliar, struktur permodalan perusahaan tetap rentan. Rasio liabilitas masih jauh melampaui kapasitas ekuitas murni perseroan.
Beban pajak penghasilan pada 2025 melonjak drastis menjadi USD119,30 juta, dari sebelumnya hanya USD7,94 juta. Lonjakan ini langsung memangkas potensi keuntungan bersih yang bisa diatribusikan secara optimal.
Selain itu, cadangan kerugian penurunan nilai piutang usaha dari pihak ketiga tercatat USD4,34 juta pada Desember 2025, lalu merangkak naik menjadi USD4,95 juta pada Maret 2026. Tingginya ketidakpastian pemulihan piutang mempertegas kualitas aset lancar perusahaan masih dibayangi risiko gagal bayar.
Utang dan Efisiensi Produksi Jadi Pekerjaan Rumah Besar
Krakatau Steel masih memiliki instrumen utang berupa obligasi wajib konversi senilai USD120,84 juta pada neraca jangka panjang. Pinjaman jangka panjang lainnya mencapai USD249,75 juta, menunjukkan beban leverage yang ekstrem.
Di sisi operasional, volume penjualan produk baja mencapai 944.562 ton pada 2025, tetapi hanya menghasilkan pendapatan USD959,84 juta. Angka ini menyoroti masalah efisiensi produksi yang membuat margin keuntungan bersih operasional tetap tertekan.
Akbar menegaskan pihaknya akan terus melakukan evaluasi portofolio secara aktif dan meninjau kembali kerja sama yang belum memberikan nilai optimal. "Oleh karena itu, Perseroan akan terus melakukan evaluasi portofolio secara aktif dan meninjau kembali kerja sama yang belum memberikan nilai optimal," katanya.
Skema pemulihan posisi finansial yang mengandalkan konversi utang menjadi saham terbukti hanya mempercantik laporan di atas kertas. Keuntungan dari transaksi restrukturisasi finansial non-operasional tidak mampu menyelesaikan akar masalah rendahnya produktivitas manufaktur baja domestik.