SULAWESI SELATAN — Setelah tertekan empat hari beruntun, IHSG akhirnya menunjukkan napas. Pada pukul 11.30 WIB, indeks melesat 4,07 persen ke 5.559,49. Volume perdagangan mencapai 18,90 miliar saham senilai Rp11,39 triliun. Sebanyak 569 saham menghijau, sementara 168 saham masih merah dan 222 lainnya stagnan.
Namun, penguatan ini belum cukup menutup luka. Secara mingguan, IHSG masih terkoreksi 9,30 persen. Dalam sebulan terakhir, indeks ambles 20,29 persen. Pelemahan rupiah ke level terendah Rp18.177 per dolar AS menjadi salah satu pemicu utama kepanikan di pasar modal.
Pernyataan DPR Jadi Katalis Saham BUMN
Di tengah tekanan itu, muncul angin segar dari DPR. Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menyebut ada peluang buyback saham BUMN yang fundamentalnya masih kuat. "Pemerintah dan DPR sedang mengkaji opsi pembelian kembali saham perusahaan negara untuk menjaga stabilitas pasar," ujarnya.
Pernyataan ini langsung disambut positif oleh pelaku pasar. BRI Danareksa Sekuritas menilai wacana tersebut berpotensi menjadi sentimen positif, khususnya bagi saham perbankan pelat merah. Sepanjang 2026, saham sektor ini tertekan berat. Saham seperti BRI, Mandiri, dan BNI disebut-sebut sebagai kandidat utama buyback karena likuiditasnya tinggi dan fundamentalnya masih solid.
Tekanan Eksternal dan Domestik Masih Mengintai
Meski ada katalis buyback, risiko belum sepenuhnya hilang. Pelemahan rupiah yang terus berlanjut menjadi momok tersendiri. Nilai tukar yang menyentuh Rp18.177 per dolar AS membuat investor asing cenderung wait and see. Belum lagi sentimen eksternal seperti kebijakan suku bunga global yang masih ketat.
Bagi investor ritel, situasi ini seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, harga saham BUMN yang murah bisa jadi peluang akumulasi. Di sisi lain, volatilitas masih tinggi dan recovery belum sepenuhnya terjamin. Yang jelas, pernyataan DPR setidaknya memberi sedikit ruang napas bagi IHSG yang sempat terkapar.