MAKASSAR — Rencana panitia menggelar Konferprov PWI Sulsel di Graha Pena Fajar berbuntut panjang. Forum Penyelamat PWI Sulsel secara terbuka menolak keputusan ini dan mendesak panitia mencari tempat alternatif yang lebih netral.
Ketua Forum Penyelamat PWI Sulsel, Arfandi Palallo, menegaskan bahwa persoalan utama bukanlah fasilitas gedung, melainkan soal menjaga citra independensi organisasi. Ia khawatir pemilihan Graha Pena Fajar akan memicu spekulasi adanya keberpihakan dari kubu tertentu.
“Persoalannya bukan cuma megahnya gedung atau mewahnya fasilitas, melainkan bagaimana menjaga citra independensi dan asas keadilan bagi setiap peserta. Arena konferensi wajib hukumnya steril dari embel-embel kepentingan kelompok tertentu,” ujar Arfandi, Sabtu (30/5/2026).
Alasan Teknis Panitia Tak Cukup Meredam Konflik
Sebelumnya, Juru Bicara Konferprov PWI Sulsel, Muhammad Arafah, menjelaskan bahwa Graha Pena Fajar dipilih berdasarkan analisis matang. Pertimbangannya meliputi kenyamanan, sistem keamanan, daya tampung aula, dan lahan parkir yang luas untuk sekitar 400 peserta dan peninjau.
Panitia juga mengklaim telah melakukan survei ke beberapa opsi tempat yang disodorkan Pemprov Sulsel, seperti Aula Jusuf Kalla dan Gedung Mulo. Namun, kedua lokasi itu dinilai kurang mumpuni untuk menampung lonjakan peserta. Meski begitu, argumen teknis ini justru memicu riak konflik baru di internal organisasi.
Krisis Kepercayaan Internal Jadi Sorotan
Arfandi menambahkan bahwa saat ini internal PWI Sulsel tengah dilanda krisis kepercayaan yang akut. Oleh karena itu, setiap tahapan konferensi, termasuk penentuan lokasi, harus mampu menjamin atmosfer yang netral tanpa sekat bagi siapa pun.
“Apabila sejak awal prosesnya sudah terindikasi tidak netral, legitimasi hasil konferensi nanti taruhannya dan rawan digugat secara terus-menerus. Padahal, misi utama PWI Sulsel saat ini adalah merajut kembali rekonsiliasi dan memulihkan martabat organisasi,” kata Arfandi dengan nada tegas.
Desakan Dialog Terbuka untuk Cari Venue Alternatif
Menanggapi kondisi ini, Forum Penyelamat PWI Sulsel mendesak panitia untuk duduk bersama dan membuka keran dialog dengan seluruh elemen peserta. Tujuannya adalah mencari tempat alternatif yang lebih inklusif dan disepakati bersama.
“Napas demokrasi di tubuh organisasi harus bersumber dari proses yang bersih, transparan, serta mandiri. Tempat perhelatan konferensi seharusnya menjadi rumah bersama yang hangat bagi seluruh anggota, bukan justru memicu tafsir liar soal keberpihakan,” pungkas Arfandi.
Apa Langkah Selanjutnya bagi PWI Sulsel?
Hingga berita ini diturunkan, panitia Konferprov PWI Sulsel belum memberikan tanggapan resmi atas desakan dari Forum Penyelamat. Publik dan anggota PWI Sulsel menunggu langkah konkret untuk meredakan ketegangan internal dan memastikan konferensi berjalan kredibel.
Mengapa Netralitas Venue Penting bagi Konferprov?
Netralitas venue menjadi krusial mengingat Graha Pena Fajar memiliki relasi historis dan emosional yang kuat dengan segelintir pihak. Kekhawatiran akan bayang-bayang pengaruh kubu tertentu bisa memicu prasangka dan menggugat legitimasi hasil pemilihan ketua yang baru.