WAJO — Di halaman Kantor Bupati Wajo, Rabu pagi, ratusan aparatur sipil negara (ASN) mengikuti upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118. Mengusung tema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”, peringatan tahun ini menyoroti ancaman baru yang dihadapi generasi muda: kedaulatan informasi.
Bukan Lagi Melawan Penjajah, Tapi Melawan Gempuran Informasi
Dalam amanat yang dibacakan Sekda Armayani, Menteri Komunikasi dan Digital RI Meutya Viada Hafid mengingatkan bahwa tantangan bangsa telah berubah drastis. “Kebangkitan berarti keberanian untuk melepaskan diri dari belenggu ketidaktahuan dan ketertinggalan,” ujar Armayani di hadapan peserta upacara.
Pesan itu menjadi pengingat bahwa perjuangan kini tidak lagi melibatkan senjata, melainkan kesiapan mental dan literasi digital masyarakat.
Mengapa Generasi Muda Jadi Sasaran Utama?
Tema Harkitnas tahun ini secara khusus menitikberatkan perlindungan terhadap tunas bangsa. Pemerintah Kabupaten Wajo menilai bahwa di era digital, anak muda menjadi garda terdepan sekaligus yang paling rentan terhadap disinformasi dan pengaruh negatif teknologi.
Armayani menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh hanya bertumpu pada aspek fisik. Penguatan karakter dan literasi digital masyarakat, menurutnya, menjadi fondasi yang harus diperkuat agar generasi muda tidak terseret arus perubahan tanpa arah.
Gotong Royong Digital: Kebangkitan Milik Semua
Upacara berlangsung khidmat dengan deretan ASN dari berbagai organisasi perangkat daerah memenuhi halaman kantor bupati. Di tengah suasana formal itu, Sekda Armayani menyelipkan pesan bahwa kebangkitan nasional adalah gerakan kolektif.
“Kebangkitan Nasional adalah milik kita semua; bermula dari kesadaran individu yang terakumulasi secara kolektif, dan berujung pada kejayaan bangsa di kancah dunia,” katanya menutup amanat.
Peringatan Harkitnas ke-118 di Wajo menjadi pengingat bahwa persatuan dan gotong royong tetap menjadi kunci, meski medan perjuangan telah berpindah ke ruang digital.