SULAWESI SELATAN — Volvo memangkas 2.500 posisi kerja secara global, dengan 2.000 di antaranya berada di Swedia, setelah membukukan kerugian operasional 3,7 miliar krona pada kuartal III 2026. Langkah efisiensi menyusul pembatalan proyeksi penjualan dan arus kas setahun penuh akibat pasar yang memburuk.
Produsen kendaraan asal Swedia yang mayoritas sahamnya dikendalikan Geely Holding ini menyatakan pemangkasan mencakup pengakhiran kontrak konsultan, pengurangan karyawan secara alami dengan tidak mengganti pekerja yang keluar atau pensiun, serta penawaran paket pengunduran diri khusus. Reuters melaporkan langkah tersebut sebagai upaya menekan biaya operasional di tengah persaingan sengit dengan produsen mobil China, tekanan tarif, dan melemahnya permintaan di Amerika Serikat.
Kinerja keuangan Volvo memburuk tajam. Perusahaan mencatat kerugian operasional yang disesuaikan sebesar 3,7 miliar krona Swedia atau sekitar US$373 juta pada kuartal III 2026, berbalik dari laba 5,8 miliar krona pada periode yang sama tahun lalu.
Marjin laba kotor menyusut ke 14,7 persen dari sebelumnya 20,4 persen. Angka ini menjadi tolak ukur bagi investor untuk mengukur dampak tarif dan pemberian diskon yang membebani harga jual kendaraan.
CEO Hakan Samuelsson tidak menyembunyikan kondisi perusahaan. Dalam pernyataan resminya, ia menyebut kinerja kuartal III sebagai cerminan tahun yang jauh lebih berat dari perkiraan awal.
"Kuartal III 2026 sangat mengecewakan dan mencerminkan tahun yang jauh lebih menantang daripada yang diperkirakan sebelumnya. Oleh karena itu, rencana pemulihan yang sedang berjalan memerlukan penguatan yang tegas," ujar Samuelsson.
Rencana PHK terbaru menyusul pemangkasan 3.000 posisi yang diumumkan tak lama setelah Samuelsson kembali menjabat sebagai CEO pada 2025. Ketika itu, Volvo mengetatkan biaya di seluruh perusahaan lewat program penghematan 18 miliar krona dan memperdalam kerja sama dengan merek-merek di bawah naungan Geely.
Tekanan terhadap Volvo tercermin di pasar saham. Harga saham grup membukukan rekor terendah pekan ini, diikuti penurunan 54 persen sepanjang tahun ini.
Investor menilai perusahaan terbebani tiga faktor sekaligus: tarif impor, permintaan kendaraan listrik yang lesu, serta biaya pengembangan EV yang tinggi. Awal bulan ini, Volvo membatalkan proyeksi volume penjualan dan arus kas untuk setahun penuh dengan alasan kondisi pasar yang semakin menantang dan prospek jangka pendek yang memburuk.
Bagi 2.500 karyawan yang terdampak, perusahaan menawarkan jalur pengurangan bertahap lewat kontrak konsultan yang diakhiri dan paket pengunduran diri khusus. Skema ini memberi ruang bagi manajemen untuk menekan biaya tanpa PHK massal sekaligus, meski tetap mengurangi jumlah tenaga kerja bersih.
Bagi investor, fokus berikutnya adalah apakah program penghematan 18 miliar krona dan penguatan rencana pemulihan mampu membalik marjin laba kotor yang kini tertekan di 14,7 persen. Tanpa perbaikan permintaan di AS dan Eropa, tekanan terhadap harga saham diperkirakan belum mereda dalam waktu dekat.