Akademi JFA Jepang Jadi Pabrik Pemain Timnas Putri, 25 Persen Lulusan Tembus Level Senior

Penulis: Dimas Prasetyo  •  Selasa, 13 Oktober 2026 | 20:09:31 WIB
Akademi JFA Fukushima menjadi salah satu pusat pembinaan pesepak bola putri Jepang.

SULAWESI SELATAN — Satu dari empat pemain yang menempuh pendidikan di JFA Academy Fukushima berhasil menembus tim nasional senior Jepang. Persentase itu menjadi fondasi di balik dominasi Nadeshiko di Asia dan kemampuan mereka bersaing dengan negara-negara besar dunia.

Sistem pembinaan usia muda yang dibangun Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) lewat tiga akademi khusus putri — Fukushima, Sakai, dan Imabari — terbukti menjadi mesin produksi talenta. Sebanyak 25 persen pemain yang masuk sejak usia 13 tahun berhasil menembus level tertinggi sepak bola Jepang.

Angka itu melonjak dalam beberapa tahun terakhir. Pada Piala Dunia 2023 di Australia dan Selandia Baru, lima dari 23 pemain Jepang merupakan lulusan Akademi Fukushima. Setahun berselang di Olimpiade Paris, jumlahnya naik menjadi tujuh.

Fukushima, Akademi Pertama yang Jadi Cetak Biru

Akademi Fukushima dibuka pada 2006, disusul Sakai pada 2012 dan Imabari pada 2015. Sebuah akademi keempat, Kumamoto Uki, khusus menampung pemain putra. Fukushima sempat berpindah lokasi ke Susono City setelah bencana nuklir yang terjadi beberapa bulan sebelum Jepang menjuarai Piala Dunia 2011.

Shota Mishio, analis tim nasional Jepang saat meraih gelar dunia 2011, kini melatih di akademi tersebut. Ia menyebut Fukushima memiliki lima pelatih teknis khusus untuk pemain putri dengan sistem asrama.

"Pemain di sini sampai usia 18 tahun. Kami berada di bawah JFA, kami sekolah pelatihan dengan akomodasi untuk pemain," ujar Mishio. "Informasi terpenting yang bisa saya berikan adalah 25 persen pemain asli kami menjadi pemain timnas senior — itu persentase yang sangat tinggi."

Pendidikan Formal Tetap Jalan di Sela Latihan

Akademi-akademi ini tidak hanya mengasah kemampuan sepak bola. Pemerintah Jepang turut membantu penyediaan pendidikan formal, termasuk program bahasa Inggris dan bahasa khusus sepak bola yang dirancang sendiri oleh JFA.

Manaka Hayashi, lulusan 2022, mengisahkan rutinitas harian saat masih menempuh pendidikan. Pagi hingga sore diisi sekolah, lalu latihan berlangsung sekitar pukul empat hingga enam sore. Memasuki usia SMA, porsi sekolah dikurangi menjadi pukul sembilan pagi hingga tengah hari agar waktu latihan bertambah.

"Kami semua harus mendaftar, lalu pelatih datang menonton kami seleksi. Bisa ada 100 sampai 200 pemain yang mendaftar, tapi hanya setengah lusin yang terpilih," kata Hayashi. "Jadi tidak mudah untuk terpilih, ini cukup istimewa."

Gaya Main Menyerang Ditanam Sejak Usia 13 Tahun

Filosofi permainan menjadi pembeda utama. Pelatih menekankan penguasaan bola dan kecerdasan taktik karena pemain Jepang kerap kalah dalam hal kecepatan dan kekuatan fisik dari lawan Eropa maupun Amerika Selatan.

"Pelatih sangat menekankan kami harus lebih baik secara teknis. Saat melawan tim asing, mereka lebih cepat dan lebih kuat, jadi kami harus lebih pintar untuk bersaing dengan kualitas bola," ujar Hayashi.

Mishio menambahkan teknik dan daya tahan menjadi dua pilar utama latihan. "Itu adalah ciri khas gaya permainan Jepang," ujarnya.

Eksodus ke Liga Eropa dan Amerika Terus Mengalir

Dampak sistem ini terlihat dari sebaran pemain Jepang di kompetisi luar negeri. Sebanyak 24 pemain terikat kontrak dengan klub-klub Women's Super League Inggris saja, termasuk Yui Hasegawa di Manchester City dan Manaka Matsukubo yang bergabung dengan Chelsea pada musim panas.

Hayashi sendiri menempuh jalur INAC Kobe, lalu pindah ke Chicago Stars di NWSL pada awal 2025, sebelum akhirnya bergabung dengan Juventus bulan lalu. Ia menyebut pengalaman hidup di asrama sejak usia 13 tahun membentuk kemampuannya berkomunikasi dengan orang dari berbagai latar belakang dan usia.

"Secara sepak bola, itu mengubah saya banyak. Pengintai JFA selalu memperhatikan, tapi Anda menjalaninya setiap hari, jadi ada begitu banyak kesempatan untuk membicarakan dan mempelajari sepak bola," kata Hayashi. "Kami menonton pertandingan hanya untuk saling membantu menjadi lebih baik, menganalisis segalanya. Itu perbedaannya dengan berada di klub lain."

Jepang saat ini menyandang status juara Piala Asia Putri setelah menjuarai edisi terbaru di bawah asuhan Nils Nielsen, yang kini digantikan Michihisa Kano. Gelar Piala Dunia 2011 dan final 2015 masih menjadi pencapaian tertinggi Nadeshiko di panggung global.

Reporter: Dimas Prasetyo
Sumber: theguardian.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top