SULAWESI SELATAN — Sofia bersama tujuh rekannya dari Indonesia resmi terpilih sebagai volunteer Asian Games dan Asian Para Games 2026 di Nagoya, Jepang. Mereka menjalani seleksi via situs resmi panitia, wawancara, dan menunggu hasil beberapa bulan sebelum dinyatakan lolos. Seluruh biaya perjalanan ditanggung sendiri.
Sofia bukan nama baru di barisan sukarelawan ajang olahraga internasional. Sebelumnya ia terlibat di SEA Games dan FIFA World Cup Qatar 2022. Kini ia kembali mendaftar untuk Asian Games 2026 meski harus merogoh kocek sendiri.
Perempuan asal Indonesia itu berangkat ke Nagoya bersama tujuh rekannya. Mereka mendaftar melalui situs resmi Asian Games, mengikuti wawancara, lalu menunggu hasil seleksi selama beberapa bulan.
"Setelah beberapa bulan kami diinfokan kalau kami lolos. Lolos sebagai volunteer Asian Games dan Asian Para Games," kata Sofia dikutip dari keterangan resmi yang diterima RRI.CO.ID, Jumat, 2 Oktober 2026.
Sofia menjadi satu dari delapan wakil Indonesia yang bertugas sebagai volunteer di Asian Games dan Asian Para Games 2026. Kedelapan orang ini menempuh proses seleksi yang sama, mulai dari pendaftaran daring hingga wawancara dengan panitia penyelenggara.
Bagi Sofia, menjadi sukarelawan bukan sekadar mengisi waktu luang atau menikmati perjalanan ke luar negeri. Ia menyebut pengalaman masuk ke dalam acara itu sendiri sebagai daya tarik utama.
"Kita bisa mengikuti suatu event yang mana kita itu masuk ke dalam acaranya itu sendiri. Tanpa menginginkan imbalan," ucap dia.
Sofia menegaskan posisi volunteer internasional tidak digaji. Hal itu berlaku di berbagai ajang besar, bukan hanya Asian Games.
"Untuk volunteer internasional benar-benar unpaid. Dari FIFA, Olympic, Special Olympics, Asian Games, semuanya nggak ada dibayar," kata Sofia.
Konsekuensinya, seluruh kebutuhan perjalanan menjadi tanggungan pribadi. Tiket pesawat, tempat tinggal, makanan di luar jadwal bertugas, dan kebutuhan lain harus dipenuhi sendiri bersama rekan-rekannya.
Biaya tersebut membuat mereka harus menabung dan mengatur pekerjaan agar tetap bisa mengikuti berbagai event internasional. Sebagian teman Sofia bekerja dari rumah, sedangkan lainnya memiliki perusahaan sendiri sehingga lebih leluasa mengatur waktu.
"Dua tahun sekali nabung dan kerja. Ini tuh untuk healing-nya," kata Sofia sambil tertawa.
Setiap event memberi Sofia kesempatan bertemu orang dari berbagai negara dan mengenal cara pandang berbeda. Ia mengaku pola pikirnya berubah setelah berinteraksi dengan relawan lintas negara.
"Setelah kita bertemu dengan orang baru, apalagi teman-teman dari overseas, pemikiran kita benar-benar sudah beda," katanya.
Sofia juga selalu membawa cinderamata dari Indonesia untuk ditukar dengan relawan lain di setiap event yang diikutinya.
"Setiap kita event di dunia manapun, aku selalu bawa cinderamata dari Indonesia. Jadi kita bisa tukar-tukar," ujarnya.
Meski tak dibayar dan datang bukan untuk berlibur, Sofia mengaku tetap mendapat kepuasan tersendiri dari pekerjaan sebagai sukarelawan.
"Kalau orang jalan-jalan aja, kalau kita ini jalan-jalan tapi bantu orang," ujarnya.