SULAWESI SELATAN — Timnas Australia menampilkan wajah berbeda dalam dua laga uji coba melawan Brasil, menahan imbang 1-1 di Townsville sebelum kalah 4-2 di Brisbane. Meski tanpa kemenangan, pelatih Tony Popovic menilai ada pergeseran mentalitas pada skuadnya yang kini dihuni generasi muda hasil kualifikasi Piala Dunia 2026 yang diraih lebih awal.
Dua pertandingan melawan Brasil menjadi ajang pembuktian bagi skuad Socceroos yang tengah bertransformasi. Laga pertama di Queensland berakhir 1-1 setelah Australia sempat unggul sebelum kebobolan di menit-menit akhir, sementara pertandingan kedua di Brisbane berjalan lebih panas dengan kekalahan 4-2.
Hasil memang belum berpihak, tetapi cara bermain Australia menunjukkan pergeseran yang signifikan dibanding penampilan mereka di Piala Dunia. Tim ini tampil lebih agresif, berani menekan tinggi, dan mencoba membangun serangan dari bawah alih-alih sekadar bertahan dan mengandalkan serangan balik.
Keberanian Australia menekan lebih tinggi dan mendorong pemain ke ruang antar lini menjadi ciri khas yang jarang terlihat pada era sebelumnya. Pendekatan ini memang menyisakan ruang di belakang yang dimanfaatkan Brasil, terutama saat kedalaman skuad Selecao mulai bekerja di akhir pertandingan.
Namun, perbedaan intensitas dan niat bermain Australia terasa kontras dengan penampilan mereka saat tersingkir dari Piala Dunia. Kala itu, Socceroos tampak kewalahan melawan Mesir di babak 32 besar dan dihajar Amerika Serikat pada paruh pertama laga fase grup.
"Ini sesuatu yang kami latih sepanjang pemusatan latihan," kata Paul Okon-Engstler. "Kami ingin lebih agresif dengan bola dan lebih mengontrol jalannya pertandingan di fase-fase tertentu. Ada banyak kepercayaan diri yang bisa kami ambil dari dua laga ini dan cara kami bermain."
Nama Okon-Engstler mencuat sebagai salah satu pemain paling impresif di seri melawan Brasil. Gelandang 21 tahun itu pindah dari Sydney FC ke 1. FC Köln dan kini menimba ilmu di Bundesliga, liga yang menuntut adaptasi cepat terhadap tekanan, intensitas, dan standar fisik yang tinggi.
Kemampuannya beroperasi di ruang sempit, berbalik menghadap gawang, dan memecah lini pertahanan lawan adalah tipe gelandang yang dibutuhkan Australia jika ingin membangun permainan dari performa melawan Brasil. Popovic secara eksplisit menginginkan pemainnya menghadapi tantangan di liga-liga top Eropa.
"Ketika sisi fisiknya semakin terasah, saya pikir dia akan jadi pemain yang cukup menakutkan," ujar Jackson Irvine. "Saya sudah bermain dengan cukup banyak pemain di posisi itu beberapa tahun terakhir, dan dia punya bakat besar."
Yang menarik, Okon-Engstler baru debut pada November lalu. Ia menjadi bukti bagaimana keputusan Australia mengamankan tiket Piala Dunia 2026 lebih awal memberi ruang bagi Popovic untuk bereksperimen dan memberi kesempatan kepada pemain muda.
Saat Australia mengalahkan Arab Saudi dan memastikan tempat ke Amerika Utara pada Juni 2025, nama-nama seperti Nestory Irankunda dan Mohamed Touré belum menjadi pilihan reguler. Paul Okon-Engstler, Patrick Beach, dan Lucas Herrington bahkan belum debut, sementara Cristian Volpato masih memperkuat tim junior Italia.
Jacob Italiano kala itu masih berkutat di kompetisi Austria yang relatif tidak disorot, dan Tete Yengi lebih dikenal sebagai adik dari Kusini Yengi. Kini, hampir semuanya sudah merasakan Piala Dunia dan sebagian besar telah mengamankan kepindahan ke liga yang lebih kompetitif.
Lucas Herrington, misalnya, menempuh perjalanan dari A-League Men ke Premier League melalui MLS dalam 12 bulan. Ekspektasi klub terhadap para pemain ini pun meningkat, dan Popovic menilai pemahaman taktik mereka terus berkembang.
Kemenangan atas Jepang dan Arab Saudi pada Juni 2025 bisa jadi merupakan salah satu hasil paling menentukan bagi Australia dalam beberapa dekade terakhir. Tanpa kemenangan itu, jika Socceroos masih harus bermain di kualifikasi hingga 2026, generasi muda ini kemungkinan tidak akan mendapat kesempatan menembus skuad, tampil di Piala Dunia, dan mengamankan transfer ke klub-klub besar.
Bersama nama-nama seperti Alessandro Circati dan Jordan Bos yang debut di era Graham Arnold, Australia kini memiliki sekelompok pemain muda yang siap menjadi tulang punggung tim nasional. Dua laga melawan Brasil, meski berakhir tanpa kemenangan, menjadi penanda bahwa arah baru Socceroos sedang terbentuk.