El Nino 2026-2027 Berpotensi Pecahkan Rekor, Puncak Oktober-Desember

Penulis: Aditya Nugraha  •  Kamis, 01 Oktober 2026 | 12:38:01 WIB
Anomali suhu muka laut Pasifik Khatulistiwa tercatat 3,05 derajat Celsius di atas rata-rata periode 1991-2020.

SULAWESI SELATAN — Peneliti Scripps Institution of Oceanography Mark Merrifield memprediksi El Nino 2026-2027 berpeluang 75 persen melampaui rekor kekuatan sejak 1950-an pada Oktober-Desember 2026. Anomali suhu permukaan laut Pasifik Khatulistiwa sudah menembus 3,05 derajat Celsius di atas rata-rata, melewati rekor 2015. BRIN memperingatkan dampak kekeringan di Indonesia bisa berlanjut hingga 2028.

Anomali suhu muka laut di Pasifik Khatulistiwa saat ini mencapai 3,05 derajat Celsius di atas rata-rata periode 1991-2020. Angka itu sudah melewati rekor 3,02 derajat Celsius yang tercatat pada akhir November 2015, atau beberapa bulan sebelum El Nino diprediksi mencapai puncaknya.

Indeks Oceanic Nino Index (ONI) di wilayah Nino 3.4 juga hanya terpaut 0,01 derajat Celsius dari rekor 2015. Dua indikator utama itu memberi sinyal kuat bahwa Pasifik sedang bergerak menuju fase Super El Nino.

Peluang 75 Persen di Musim Oktober-Desember

Merrifield menyampaikan proyeksi tersebut dalam webinar bertajuk "El-Nino 2026-2027: From Global Climate Signal to Local Action: Preparing Indonesia and the United States for an Unprecedented Climate Challenge" pada Selasa (29/9).

"Untuk musim Oktober hingga Desember 2026, terdapat peluang sebesar 75 persen bahwa fenomena ini akan menjadi peristiwa bersejarah yang kekuatannya melampaui rekor El Nino sebelumnya sejak tahun 1950-an," ujar Merrifield.

Terpisah, ilmuwan iklim Zeke Hausfather menelaah 14 model iklim yang rata-rata memproyeksikan anomali suhu mencapai sekitar 4 derajat Celsius pada November dan Desember. Analisisnya diterbitkan Carbon Brief.

Hausfather menyebut proyeksi penguatan tersebut mencengangkan. Analisis terumbu karang, lingkaran pertumbuhan pohon, dan dokumen sejarah mengindikasikan belum ada El Nino yang mencapai tingkat tersebut dalam satu milenium terakhir.

Dampak di Indonesia Tidak Lagi Seragam

Peneliti Senior Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN Erma Yulihastin menjelaskan dampak El Nino 2026-2027 di Benua Maritim Indonesia menunjukkan pola spasial yang semakin beragam. Perbedaan dampaknya tidak lagi bisa dijelaskan sederhana berdasarkan garis ekuator.

Kondisi lokal dan topografi ikut menentukan cuaca tiap wilayah. Bogor, misalnya, masih kerap diguyur hujan karena pengaruh kondisi setempat dan topografi pegunungan. Situasinya berbeda dengan Lamongan, Jawa Timur, yang menurut Erma mengalami periode kering jauh lebih panjang.

Kajian tim Erma juga menyoroti pergeseran musim kemarau yang lebih panjang, risiko terhadap produksi padi, serta tekanan panas lingkungan. Pengukuran dengan indeks Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) menunjukkan Kalimantan dan Papua memiliki kerentanan tinggi terhadap tekanan panas.

Erma turut menyoroti potensi peningkatan kebakaran hutan. Ancaman kekeringan akibat El Nino diproyeksikan masih berlanjut hingga periode 2027-2028.

Proyeksi Berbasis 14 Model Iklim NASA

Proyeksi jangka panjang itu disusun dari hasil simulasi dan analisis menggunakan 14 model iklim NASA NEX-GDDP. Erma menilai hasil kajian tersebut menunjukkan perlunya kewaspadaan jangka panjang dari berbagai pihak dalam menghadapi risiko kekeringan dan tekanan panas.

Di pesisir Pantai California, Merrifield mencontohkan dampak El Nino berupa peningkatan gelombang, tingginya permukaan laut, pasang surut ekstrem, serta hujan lebat yang dapat meningkatkan risiko banjir pesisir. Pola dampak yang berbeda antara Amerika Serikat dan Indonesia menegaskan bahwa El Nino bukan fenomena cuaca yang seragam.

Reporter: Aditya Nugraha
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top