BMKG Sebut Asap Karhutla Kalimantan Tidak Bergerak ke Pulau Jawa

Penulis: Aditya Nugraha  •  Senin, 28 September 2026 | 12:40:01 WIB
Pergerakan massa udara dari karhutla Kalimantan dominan mengarah ke barat, bukan ke selatan menuju Pulau Jawa.

SULAWESI SELATAN — Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan pergerakan massa udara dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Kalimantan lebih dominan mengarah ke barat, bukan ke selatan menuju Pulau Jawa. Analisis angin pada tiga lapisan atmosfer menunjukkan pola yang relatif kurang mendukung penyebaran asap langsung ke wilayah Jawa. Penjelasan ini menjawab kecemasan warganet yang ramai membagikan citra satelit asap tebal di Kalimantan di media sosial.

Kepala Bidang Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani, memaparkan analisis angin terkini untuk menjawab kekhawatiran publik. Analisis itu mencakup tiga lapisan atmosfer yang berbeda: lapisan bawah (850 hPa), lapisan menengah (700 hPa), dan lapisan atas (500 hPa).

Dari ketiga lapisan tersebut, pola angin menunjukkan massa udara bergerak dominan ke arah barat, bukan ke selatan. Artinya, asap karhutla Kalimantan tidak dalam jalur langsung menuju Pulau Jawa.

Pola Angin di Tiga Lapisan Atmosfer

Pada lapisan atmosfer bawah (850 hPa), angin di wilayah Kalimantan, Laut Jawa, dan Jawa Timur bertiup dari arah timur-tenggara menuju barat. Pola ini berbeda dengan lapisan menengah (700 hPa) yang justru bergerak dari selatan-barat daya menuju barat laut-utara.

Sementara di lapisan atmosfer atas (500 hPa), angin dominan bertiup dari timur laut-timur menuju barat. Ketiga lapisan ini secara konsisten mengarahkan massa udara ke barat, bukan ke selatan.

"Dengan demikian, berdasarkan pola angin pada masing-masing lapisan tersebut, pergerakan massa udara secara umum lebih dominan mengarah ke barat dan relatif kurang mendukung pergerakan asap secara langsung ke arah selatan menuju Pulau Jawa," ujar Ida melalui pesan singkat, Senin (28/9/2026).

Hujan di Pulau Jawa Bantu Turunkan Polutan

Intensitas hujan di Pulau Jawa yang semakin bertambah turut membantu menurunkan konsentrasi polutan di udara. Butiran hujan mampu menangkap partikel aerosol dan partikulat yang tersuspensi, lalu membawanya turun ke permukaan.

Efek pencucian atmosfer ini paling efektif saat hujan turun dengan intensitas sedang hingga lebat dalam durasi cukup panjang. Meski begitu, besarnya penurunan polutan tetap bergantung pada kondisi angin, kelembapan, stabilitas atmosfer, dan sebaran polutan di tiap wilayah.

"Pengaruh ini umumnya akan lebih efektif apabila hujan terjadi dengan intensitas sedang hingga lebat dan berlangsung dalam durasi yang cukup. Meski demikian, besar kecilnya penurunan konsentrasi polutan tetap dipengaruhi oleh kondisi angin, kelembapan, stabilitas atmosfer, serta sebaran polutan di masing-masing wilayah," imbuh Ida.

Belum Ada Wilayah Jawa yang Terpapar Langsung

Hingga analisis terakhir, BMKG belum mengamati daerah atau provinsi spesifik di Pulau Jawa yang terpapar langsung asap dari Kalimantan. Tidak ada data kuantitatif yang mencatat besarnya perubahan indeks kualitas udara di area Jawa akibat asap karhutla tersebut.

Ketiadaan data ini menunjukkan bahwa kekhawatiran warganet belum sepenuhnya terkonfirmasi secara meteorologis. Citra satelit yang beredar di media sosial memperlihatkan asap tebal di Kalimantan, tetapi arah angin tidak mengarahkan asap itu ke selatan.

Pergerakan massa udara yang dominan ke barat tetap perlu dipantau, terutama jika pola angin berubah. BMKG akan terus memperbarui analisis angin dan kualitas udara seiring perkembangan kondisi atmosfer di wilayah Kalimantan dan sekitarnya.

Reporter: Aditya Nugraha
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top