MAROS — Taman Arkeologi Leang-Leang terletak di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, dan menyimpan jejak manusia prasejarah berupa lukisan telapak tangan di dinding batu kapur. Kawasan ini berjarak sekitar setengah jam perjalanan dari Kampung Karst Rammang-Rammang, masih di kabupaten yang sama. Jalur setapak di dalam taman tertata cukup baik dan dilengkapi papan-papan penunjuk arah bagi pengunjung.
Lukisan di dinding gua Leang-Leang menampilkan guratan bentuk dan warna yang tercetak pada batu kapur. Cetakan telapak tangan itu tampak bertumpuk-tumpuk, tidak hanya satu atau dua. Jumlahnya yang banyak memunculkan dugaan bahwa aktivitas melukis di batu dilakukan berulang oleh banyak orang pada masa lampau.
Pola serupa juga ditemukan di sejumlah situs prasejarah lain di Sulawesi Selatan. Kawasan karst Maros memang dikenal sebagai wilayah dengan kekayaan peninggalan arkeologi yang tersebar di banyak gua.
Melihat lukisan tersebut, muncul pertanyaan soal maksud pembuatnya. Apakah sang pelukis saat itu sedang bosan lalu iseng mencetak bentuk telapak tangannya sendiri. Bisa juga ada pesan tertentu yang ingin disampaikan kepada sesama manusia pada masa itu.
Kemungkinan lain, lukisan itu memang ditujukan untuk manusia di masa depan. Seperti manusia saat ini yang ingin dikenang oleh generasi setelahnya. Hingga kini, para peneliti masih menerka arti dan maksud guratan-guratan tersebut.
Kunjungan ke Leang-Leang biasanya dilakukan setelah menyusuri Kampung Karst Rammang-Rammang. Perjalanan ke arah timur menuju taman arkeologi ini memakan waktu sekitar setengah jam dengan mobil. Setibanya di lokasi, pengunjung melewati gerbang kecil dan menuju loket untuk membeli tiket.
Harga tiket masuk Taman Arkeologi Leang-Leang sebesar Rp 15.000 per orang. Salah seorang pengunjung asal Maros, Zalikha, menyebut kawasan ini sudah mengalami perubahan dibanding kunjungan sebelumnya.
"Pernah dong, Pak. Tapi dulu belum seperti ini. Kalau kita mau ke gua yang ada lukisannya, sepertinya kita ke arah sebelah kanan ini," kata Zalikha.
Di sisi kiri jalur setapak, batu-batu hitam tampak bermunculan acak dari dalam tanah. Sebuah papan interpretasi menandai area itu dengan tulisan "Taman Batu". Sebagian pengunjung berfoto di kumpulan batu tersebut sebelum melanjutkan perjalanan.
Tujuan utama kunjungan berada di Leang Pettakere, gua yang menyimpan dinding lukisan. Dari Taman Batu, rombongan bergegas menuju gua tersebut melalui jalur yang sudah ditandai papan penunjuk arah. Jalur setapak di taman ini terawat baik sehingga memudahkan pengunjung mencapai gua berisi peninggalan purba.