David Turpin Bawa 'Ancestors' ke TIFF, Angkat Krisis AIDS Lewat Cinta dan Found Family

Penulis: Aditya Nugraha  •  Jumat, 11 September 2026 | 22:34:31 WIB
Sutradara David Turpin membawa film "Ancestors" tayang perdana di Toronto International Film Festival (TIFF).

SULAWESI SELATAN — David Turpin kembali ke kursi sutradara dengan proyek yang sangat personal. Film berjudul "Ancestors" ini resmi tayang perdana di Toronto International Film Festival (TIFF). Turpin menyoroti periode kelam krisis HIV-AIDS di London pada akhir 1980-an, sebuah masa yang menurutnya terus menghantui generasinya hingga kini.

Berbeda dari film dokumenter sejarah, "Ancestors" memilih pendekatan naratif karakter. Fokusnya bukan pada data statistik korban, melainkan pada keintiman hubungan manusia, cinta, dan bagaimana mimpi bisa menjadi penyelamat saat realitas runtuh.

Sinopsis: Pencarian Tempat untuk Menjadi Diri Sendiri

Kisah ini berpusat pada Beau (Éanna Hardwicke), seorang imigran Irlandia yang mencari komunitas di London. Ia tinggal bersama sahabatnya, Michelle (Jessica Reynolds), dan bekerja di kafe yang dikelola Maurice (Rupert Everett). Maurice berperan sebagai figur "tante" bagi para pemuda gay di lingkungan tersebut.

Maurice juga bertugas menjaga memori para bintang film legendaris yang fotonya memenuhi dinding kafe dan rumahnya. Christina Hendricks memerankan salah satu bintang layar lebar tersebut, sebuah peran yang berfungsi sebagai metafora sekaligus realitas dalam cerita.

Kehidupan Beau yang tertata rapi berubah drastis saat Tiny (Jack Wolfe) masuk ke dalam hidupnya. Turpin mengungkapkan pendekatannya dalam membangun chemistry para pemain. Ia memberikan setiap aktor sebuah Walkman dan kaset berisi musik yang sesuai dengan karakter mereka.

"Salah satu hal yang saya lakukan dengan semua pemain adalah saya memberi mereka Walkman kaset dan membuatkan mereka kaset. Ini menjadi momen yang menyadarkan karena beberapa pemain muda belum pernah melihat kaset sebelumnya," ujar Turpin.

Menurutnya, musik membantu para aktor masuk ke dalam atmosfer era tersebut dengan cara yang tidak bisa dicapai hanya melalui dialog. "Musik bisa membawa Anda ke tempat yang tidak bisa dijangkau oleh obrolan, musik akan langsung memindahkan Anda ke sana," tambahnya.

Mengapa Kisah Ini Penting bagi Turpin?

Turpin lahir pada 1982, saat krisis AIDS mulai mencapai puncaknya. Meski saat itu ia masih kecil, dampaknya terasa sepanjang hidupnya. Ia menyoroti kecenderungan manusia untuk tidak melihat ke belakang pada peristiwa traumatis, yang justru membuat hantunya terus hadir.

"Saya pikir banyak orang dari generasi saya dan bahkan generasi setelahnya merasakan ketiadaan para tetua kami. Entah mereka yang meninggal atau mereka yang terluka parah oleh krisis itu hingga menarik diri dan menjadi tidak terjangkau," jelas Turpin.

Film ini lahir dari perasaan kesepian dan keinginan akan kontinuitas. Turpin sering membayangkan bagaimana rasanya memiliki hubungan dengan generasi sebelumnya yang terputus akibat krisis tersebut.

Kolaborasi dengan Rupert Everett dan Christina Hendricks

Kehadiran Rupert Everett dianggap sebagai hak istimewa bagi Turpin. Everett dianggap sebagai saksi hidup yang mengalami langsung atmosfer London pada masa itu. Aktor tersebut berbagi pengalaman nyata tentang bagaimana rasanya hidup di tengah krisis.

Dalam film ini, karakter Maurice digambarkan sangat mengagumi bintang layar legendaris. Turpin ingin meluruskan persepsi modern tentang "camp" yang sering dianggap lelucon. Baginya, hubungan pria gay dengan bintang seperti Joan Crawford atau Bette Davis adalah bentuk pencarian spiritual.

"Kita semua harus menemukan rute kita sendiri menuju pengalaman spiritual. Bagi banyak orang, itu adalah Bette Davis, Joan Crawford, atau Elizabeth Taylor. Itu bukan pemujaan, melainkan keberanian untuk menemukan jalan menuju yang ilahi di dunia yang mengatakan Anda kotor dan tidak pantas," tegas Turpin.

Mengenai Christina Hendricks, Turpin mengaku tidak menyangka aktris tersebut akan membaca naskahnya. Ia mengidolakan Hendricks sejak era "Mad Men". Namun, Hendricks merespons naskah tersebut dengan antusias dan membangun karakternya dengan sangat teliti.

Apa Selanjutnya?

Mister Smith Entertainment menangani penjualan internasional untuk film ini. Turpin juga sedang menyiapkan proyek film panjang berikutnya yang dijadwalkan syuting tahun depan. Meski ia menyebut proyek barunya sangat berbeda, ia mengaku tidak bisa membayangkan membuat film yang bukan tentang cinta.

Kehadiran "Ancestors" di TIFF menambah daftar film drama periodik yang menyoroti sejarah komunitas marginal. Bagi pasar film global, karya Turpin ini menawarkan perspektif personal yang jarang diangkat dalam narasi besar sejarah krisis AIDS.

Reporter: Aditya Nugraha
Sumber: variety.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top