Como Debut di Liga Champions Usai Kalahkan Milan di Hari Terakhir Serie A

Penulis: Bramantyo Wicaksono  •  Kamis, 10 September 2026 | 15:07:01 WIB
Como menjalani debut di Liga Champions setelah finis keempat Serie A musim lalu.

SULAWESI SELATAN — Laga di Stadio Giuseppe Sinigaglia malam ini menjadi puncak perjalanan panjang Como, klub yang pada 2019 masih berlaga di kasta keempat sepak bola Italia. Kini mereka berdiri di panggung yang sama dengan Real Madrid, Bayern Munich, dan Manchester City.

Keberhasilan Como menembus empat besar Serie A musim lalu sekaligus mencatat sejarah tersendiri bagi kompetisi Italia. Untuk pertama kalinya sejak Liga Champions dirombak, tidak ada Juventus maupun AC Milan di daftar peserta.

Dari Serie D ke Liga Champions dalam Tujuh Tahun

Perubahan besar Como dimulai ketika klub ini diakuisisi keluarga Hartono dari Indonesia sekitar tujuh tahun lalu. Pemilik dengan kekayaan lebih dari £30 miliar itu membangun fondasi baru yang mengubah arah klub secara menyeluruh.

Thierry Henry menanamkan modal pada 2022, disusul Cesc Fabregas yang mengakhiri karier bermainnya di Serie B bersama Como. Fabregas kemudian naik ke kursi pelatih, membawa klub promosi ke Serie A pada 2024 dan finis di posisi 10 pada musim pertamanya.

Musim lalu, pencapaiannya melesat. Como finis keempat dan menyalip Milan di hari terakhir kompetisi, sebuah hasil yang mengantarkan mereka ke Liga Champions.

Rekrutmen Cerdas, Bukan Sekadar Bintang Mapan

Setelah promosi, Pepe Reina dan Raphael Varane bergabung. Alvaro Morata menyusul pada musim panas lalu. Namun kemajuan Como lebih banyak ditopang perekrutan cerdas ketimbang nama besar semata.

  • Nico Paz, playmaker muda Argentina yang didatangkan dari Real Madrid
  • Anastasios Douvikas, top scorer Yunani dari Celta Vigo

Pendekatan ini membuat Como tetap kompetitif tanpa harus mengeluarkan dana besar untuk pemain bintang yang sudah melewati puncak karier.

Stadion Sinigaglia dan "Keajaiban Konstruksi" 90 Hari

Ada keraguan apakah Stadio Giuseppe Sinigaglia memenuhi persyaratan UEFA. Como sempat berpotensi memainkan laga kandang di Sassuolo, sekitar 120 mil dari kota mereka, atau Udine yang berjarak 200 mil.

Klub akhirnya menyelesaikan pembangunan ulang cepat dalam 90 hari untuk mendapatkan persetujuan Kategori 4. Stadion bersejarah di tepi Danau Como itu kini memenuhi standar kompetisi tertinggi Eropa.

Fabregas Tolak Inter, Pilih Bertahan di Como

Penampilan impresif Fabregas di kursi pelatih membuatnya dikaitkan dengan sejumlah klub besar. Inter Milan mendekatinya setahun lalu, tetapi ia menolak dan memilih bertahan.

Keputusan itu terbukti berbuah. Fabregas membawa Como dari kandidat degradasi menjadi peserta Liga Champions dalam dua musim.

Klub Kejutan Lain dan Nasib Shakhtar

Beberapa juara mengejutkan memulai musim panas dari babak kualifikasi. Mjallby, dari desa nelayan berpenduduk 800 jiwa, meraih gelar pertama Swedia. FC Thun menjadi juara Swiss untuk pertama kalinya.

Levski Sofia mengakhiri dominasi 14 tahun Ludogorets di Bulgaria. Ludogorets gagal menyamai rekor dunia 15 gelar beruntun yang dipegang klub Vanuatu, Tafea.

Shakhtar Donetsk, yang juga lolos ke fase liga, tidak bisa bermain di kandang karena alasan yang jelas. Mereka sempat berdiskusi menggunakan markas Brentford, dengan opsi cadangan di Jerman, sebelum akhirnya memilih Stamford Bridge.

Dari semua klub kejutan yang disebut di atas, hanya Como yang benar-benar sampai ke fase liga. Malam ini, klub tepi Danau Como itu membuktikan perjalanan mereka bukan sekadar kebetulan.

Reporter: Bramantyo Wicaksono
Sumber: fourfourtwo.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top