Janda 9 Anak di Bone Pilih Bertahan di Rumah Nyaris Roboh: Tiang Penyangga Kini Patah, Bantuan Pemkab Belum Juga Datang

Penulis: Aditya Nugraha  •  Jumat, 04 September 2026 | 05:04:01 WIB
Rumah panggung milik Ani (51) di Desa Ajallasse, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Bone, mengalami kerusakan pada sejumlah tiang penyangga bagian belakang.

BONE — Setiap kali hendak melangkah ke atas rumah panggung di Desa Ajallasse, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Bone, Ani (51) harus menarik napas panjang.

Ia sadar, bagian belakang rumah itu hanya ditopang tiang-tiang yang sebagian sudah patah. Kondisi itu sudah berlangsung beberapa bulan, kata Ani, dan membuatnya selalu was-was ketika ia maupun anak-anaknya berada di dalam rumah.

Perempuan yang sehari-hari mengandalkan upah dari membantu warga memanen padi atau bekerja di gudang tak jauh dari rumahnya ini merasa tak mampu membiayai perbaikan. Penghasilannya, menurut dia, hanya cukup untuk menutup kebutuhan makan dan kebutuhan sekolah anak.

Andalkan Upah Serabutan, Kerap Ditemani Rasa Cemas

Ani yang merupakan janda dengan sembilan anak ini kini tinggal bersama tiga anaknya. Dua di antaranya masih duduk di bangku SMP Cenrana, satu anak lainnya mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat. Satu anaknya lagi memilih turut bekerja bersama warga untuk membantu kebutuhan keluarga.

Ani menceritakan, dirinya tak pernah merasa aman ketika berada di dalam rumah. Kekhawatiran itu kian besar setiap kali datang kerabat yang hendak berkunjung, karena rumah dianggap tak sanggup menahan beban orang yang masuk.

"Bisa kita lihat sendiri bagaimana kondisi rumahku, Nak. Sebagian tiang di belakang sudah patah. Kalau kami di atas rumah, selalu was-was karena rumah ini sudah mau roboh," tutur Ani dengan mata berkaca-kaca.

Pernah Ditawari Pindah ke Kota, Memilih Tetap di Desa karena Anak Sekolah

Di tengah keterbatasan itu, pamannya beberapa kali menawari Ani untuk pindah ke kota. Ani mengaku menolak tawaran tersebut karena masih memiliki anak yang bersekolah di Cenrana. Menurut dia, hidup di kota membutuhkan biaya jauh lebih besar daripada di desa, tempat ia masih bisa mendapatkan pekerjaan serabutan.

"Sebenarnya saya pernah disuruh tinggal di kota oleh om saya, Nak. Cuma anak saya masih SMP di sini. Kalau di kota semuanya perlu uang. Kalau di sini saya masih bisa ikut kerja di gudang," kenangnya.

Penolakan itu bukan tanpa alasan. Ani menjelaskan, di desa ia masih bisa menjual tenaga membantu panen padi milik warga atau bekerja di gudang penyimpanan. Jika pindah ke kota, semua kebutuhan hidup memerlukan uang, sementara ia belum tentu mendapat pekerjaan tetap.

Anak yang Sudah Berkeluarga Diminta Pulang Lebih Awal

Beberapa hari lalu, salah satu anaknya yang telah menikah datang berkunjung bersama cucu. Bukannya merasa

Reporter: Aditya Nugraha
Sumber: berita-sulsel.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top