BONE — Adry, warga Tanete Riattang, mengaku kini lebih sering mengandalkan telepon selulernya untuk bertransaksi dibanding berinteraksi dengan mesin ATM. Pria ini menyebut kepraktisan QRIS membuatnya jarang membawa uang tunai.
"Saya lebih pilih ketinggalan dompet daripada HP. Karena kalau di HP ada semua, termasuk uang. Jarang pakai ATM karena ada QRIS," ungkapnya, Senin, 31 Agustus 2026.
Perubahan perilaku ini tidak hanya didorong faktor kemudahan. Di kawasan pedesaan seperti Kelurahan Mampotu, Kecamatan Amali, keterbatasan fasilitas menjadi alasan utama. Hera, seorang warga setempat, menuturkan jarak tempuh ke ATM mencapai lebih dari 15 kilometer menuju Kecamatan Ulaweng.
"Lebih suka pilih BRILink karena di tempat saya tidak ada ATM. Kalau mau ke ATM harus ke Kecamatan Ulaweng yang jaraknya lebih dari 15 kilometer," kata Hera.
Kehadiran agen perbankan seperti BRILink pun menjadi solusi bagi warga di daerah yang tidak terjangkau mesin ATM.
Fenomena ini terekam dalam data Bank Indonesia (BI) Sulawesi Selatan. Hingga semester I 2026, jumlah kepemilikan kartu ATM/debit di Sulsel masih tumbuh 1,85 persen secara tahunan (Year-on-Year/YoY) menjadi 10,78 juta kartu, dibandingkan sebelumnya 10,33 juta kartu.
Namun, tingginya kepemilikan kartu tersebut tidak berbanding lurus dengan frekuensi penggunaannya. BI mencatat volume transaksi kartu debit di Sulsel pada semester I 2026 berkontraksi hingga -10 persen YoY dengan total 15,18 juta transaksi, turun signifikan dibanding periode 2023 yang sempat mencapai 17,41 juta transaksi.
Meski tren pergeseran sudah terlihat, penggunaan kartu debit dan mesin ATM tidak serta-merta hilang. Kartu ATM umumnya masih dimanfaatkan warga saat membutuhkan uang tunai untuk berbelanja di pasar tradisional yang mayoritas pedagangnya belum menyediakan opsi pembayaran nontunai.
Artinya, transisi ke ekonomi digital berjalan bertahap dan berdampingan dengan kebutuhan uang fisik di sektor tertentu.