MAKASSAR — Intensitas kebakaran hutan dan lahan di Sulawesi Selatan meningkat tajam saat memasuki puncak musim kemarau pada Juli hingga Agustus 2026. Kondisi cuaca panas yang disertai angin kencang disebut menjadi pemicu utama meluasnya api di sejumlah wilayah.
Kepala Pelaksana BPBD Sulsel Amson Padolo mengungkapkan, dari total 112 kejadian karhutla, sebagian besar area yang terbakar merupakan kawasan hutan dan lahan seluas 1.607,92 hektare. Sisanya, sekitar 5,75 hektare, merupakan lahan perkebunan masyarakat yang ikut hangus.
Kabupaten Enrekang menjadi wilayah dengan dampak terparah. Dari 10 kejadian kebakaran yang tercatat, luas lahan yang terbakar mencapai 1.044,55 hektare. Angka ini jauh melampaui wilayah lain yang juga mengalami kebakaran.
Setelah Enrekang, Kabupaten Barru mencatatkan luas area terbakar sekitar 315 hektare dari lima kejadian. Sementara itu, Kabupaten Tana Toraja mengalami 11 kejadian karhutla dengan total lahan terbakar mencapai 125 hektare.
Kota Parepare menjadi wilayah dengan frekuensi kejadian tertinggi kedua, yakni 25 kali karhutla. Meski begitu, luas area yang terbakar di kota tersebut relatif lebih kecil, hanya mencapai 20,06 hektare. Kabupaten Pinrang mencatat 18 kejadian dengan luas lahan terbakar 54,4 hektare, ditambah tiga hektare perkebunan warga.
Dampak karhutla tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga menyentuh langsung kehidupan masyarakat. Di Kota Palopo, misalnya, tercatat 10 kejadian kebakaran yang menghanguskan 1,25 hektare kebun warga serta 3,5 hektare hutan dan lahan.
Peristiwa kebakaran di Palopo menyebabkan 12 keluarga terdampak dan empat orang di antaranya menjadi korban. Selain itu, sebanyak 39 unit usaha dan fasilitas umum mengalami kerusakan akibat kebakaran. Dari jumlah tersebut, 37 unit berada di Kabupaten Barru dan dua unit lainnya di Kabupaten Luwu Utara.
Menyikapi kondisi di lapangan, BPBD Sulsel mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas pembakaran terbuka, baik untuk membakar sampah maupun lahan. Kondisi vegetasi yang kering membuat api sangat mudah menjalar, terutama ketika disertai hembusan angin kencang.
"Dari rangkaian kejadian tersebut, total area yang terbakar mencapai 1.613,67 hektare yang terdiri atas 1.607,92 ha hutan dan lahan serta 5,75 ha perkebunan masyarakat," jelas Amson Padolo di Makassar, Selasa.
Amson menegaskan perlunya kewaspadaan bersama untuk mencegah munculnya titik api baru. Upaya pencegahan dinilai penting karena musim kemarau masih berpotensi meningkatkan risiko karhutla di sejumlah daerah Sulsel.
Selain aspek lingkungan, BPBD juga mengingatkan bahwa kejadian karhutla dapat berimplikasi hukum. Penanganan terhadap kejadian yang ditemukan telah dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.
Dengan luas area terbakar yang telah mencapai lebih dari 1.600 hektare hingga Agustus, BPBD Sulsel meminta masyarakat dan seluruh pihak terkait memperkuat pencegahan, terutama di wilayah yang memiliki vegetasi kering dan rawan kebakaran.