PALEMBANG — Universitas Sriwijaya (Unsri) membuka ruang kolaborasi baru dengan PT Nose Herbal Indo, perusahaan manufaktur yang fokus pada pengembangan produk berbasis bahan alam. Penjajakan kerja sama ini bertujuan menjembatani riset akademik dengan kebutuhan industri, khususnya dalam pengolahan kekayaan hayati Indonesia menjadi produk bernilai tambah.
Langkah ini diharapkan mampu mempercepat hilirisasi penelitian yang selama ini kerap berhenti di perpustakaan kampus. Melalui kemitraan ini, hasil riset dosen dan mahasiswa diharapkan bisa masuk ke pasar sebagai produk nyata yang memenuhi standar internasional.
Ruang lingkup kerja sama yang dijajaki cukup luas, tidak hanya sebatas penelitian tanaman obat. Kedua belah pihak juga membuka peluang untuk inovasi bahan baku kosmetik, pengujian laboratorium, hingga program magang dan transfer teknologi bagi mahasiswa.
Bagi mahasiswa, kemitraan ini menjadi pintu masuk untuk terlibat langsung dalam proses industri. Mereka tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga mendapatkan pengalaman nyata dalam pengembangan produk berbasis riset.
Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Inovasi, Hilirisasi, dan Teknologi Informasi Unsri, Prof. Dr. dr. Radiyati Umi Partan, Sp.PD., K-R., M.Sc., menyambut baik inisiatif ini. Ia menilai kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah adalah kunci untuk menciptakan produk inovatif yang bernilai tambah.
“Indonesia menyimpan keanekaragaman hayati yang sangat besar. Oleh karena itu, perguruan tinggi, industri, dan pemerintah harus berkolaborasi agar mampu menciptakan produk inovatif yang bernilai tambah,” ujar Prof. Radiyati.
Ia menambahkan, kemitraan ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat ekosistem inovasi di kampus. Selain membuka peluang riset kolaboratif, kerja sama ini juga dinilai mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta mempercepat komersialisasi hasil penelitian.
Di sisi lain, pihak industri menyatakan komitmennya untuk membangun ekosistem riset yang berkelanjutan bersama akademisi. Co-Founder sekaligus Direktur PT Nose Herbal Indo, Mr. Kim Ho, menegaskan bahwa kekayaan tanaman obat Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
Menurutnya, pengembangan tersebut harus dilakukan berbasis sains dan mengacu pada standar internasional agar mampu bersaing di pasar global. Sinergi ini menjadi jembatan penting antara dunia akademik dan industri, sekaligus memperkuat kemandirian industri kesehatan nasional.
Kedua pihak sepakat bahwa langkah awal ini menandai kemitraan jangka panjang. Ke depan, kolaborasi ini diharapkan mampu melahirkan produk herbal yang tidak hanya memenuhi regulasi, tetapi juga berdaya saing di tingkat global.