Peneliti Taiwan Fabio Yuchung Lee Telusuri Jejak Pelaut Bugis-Makassar di Arsip Pemprov Sulsel, Atlas Jaringan Pelayaran Bakal Diserahkan

Penulis: Chandra Kusuma  •  Kamis, 23 Juli 2026 | 16:45:31 WIB
Peneliti Taiwan Fabio Yuchung Lee meneliti dokumen kuno di UPT Jasa Kearsipan Pemprov Sulsel untuk mengkaji diaspora dan jaringan perdagangan Bugis-Makassar abad ke-16 hingga ke-19.

MAKASSAR — Jejak pelayaran orang Bugis-Makassar yang menghubungkan Nusantara dengan berbagai belahan dunia masih menyimpan misteri yang menarik bagi akademisi internasional. Fabio Yuchung Lee, peneliti dari National Tsing Hua University Taiwan, datang langsung ke Makassar untuk mengakses dokumen-dokumen kuno yang tersimpan di UPT Jasa Kearsipan Pemprov Sulsel.

Riset Fokus pada Diaspora dan Jaringan Dagang Abad 16-19

Fabio mengaku penelitiannya mengkaji sejarah maritim Sulawesi Selatan, diaspora Bugis-Makassar, serta jaringan perdagangan yang menghubungkan Sulawesi Selatan dengan Taiwan, Filipina, dan wilayah kekuasaan Spanyol. “Penelitian saya mengkaji sejarah maritim Sulawesi Selatan, diaspora Bugis-Makassar, jaringan perdagangan Asia Tenggara, serta hubungan historis antara Sulawesi Selatan, Taiwan, Filipina, dan dunia Hispanik dari abad ke-16 hingga abad ke-19,” ujarnya.

Untuk mendukung risetnya, ia mengajukan izin mempelajari koleksi arsip yang mencakup dokumen Kerajaan Bone, silsilah keluarga kerajaan, naskah kuno, peta, foto, arsip kolonial, hingga dokumen perdagangan maritim dan komunitas Tionghoa. Fabio menegaskan seluruh arsip yang dipelajari hanya untuk kepentingan akademik dan publikasi ilmiah, serta mematuhi aturan hak cipta dan sitasi yang ditetapkan institusi.

Atlas Jaringan Pelayaran Akan Jadi Koleksi Arsip Daerah

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, Prof. Muh Jufri, menyebut kunjungan ini membuktikan arsip daerah memiliki nilai ilmiah tinggi. Ia mengungkapkan salah satu hasil kerja sama yang akan dibangun adalah penyerahan sebuah atlas mengenai jaringan pelayaran dan perdagangan saudagar Bugis-Makassar.

“Fabio datang untuk menelusuri sejarah kemaritiman Bugis-Makassar, diaspora Bugis-Makassar, budaya maritim di Kerajaan Bone, Luwu, Bulukumba, hingga tradisi pembuatan kapal Pinisi. Ini menunjukkan arsip yang kita miliki memiliki nilai ilmiah dan historis yang sangat tinggi,” ujar Jufri. Atlas tersebut, lanjutnya, berisi hasil pengembangan data sejarah yang selama ini tersimpan di Belanda dan dikaji di National Tsing Hua University, Taiwan. Nantinya, atlas itu akan menjadi bagian dari koleksi arsip daerah.

Arsip Jadi Jati Diri Bangsa, Bukan Sekadar Dokumen Usang

Kepala UPT Jasa Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, Hj Mustaana, menambahkan kunjungan ini menjadi bukti khazanah arsip yang dikelola Pemprov Sulsel diakui hingga tingkat internasional. Menurutnya, penelitian ini diharapkan memperkuat kajian sejarah maritim dan peradaban Bugis-Makassar dalam perspektif global.

Prof. Muh Jufri menegaskan, tanpa arsip, generasi masa kini akan kehilangan identitas dan keterhubungan dengan masa depan. “Arsip bukan sekadar dokumen, melainkan warisan sejarah dan budaya bangsa,” katanya. Ia berharap semakin banyak peneliti internasional yang memanfaatkan arsip Sulawesi Selatan sebagai rujukan ilmiah, sehingga sejarah dan budaya Bugis-Makassar semakin dikenal di tingkat global.

Reporter: Chandra Kusuma
Sumber: sulselsatu.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top