SULAWESI SELATAN — Jakarta - Di era di mana hampir setiap rumah memiliki lebih dari satu perangkat komputasi—mulai dari laptop, desktop, hingga smartphone—sulit membayangkan ada eksekutif teknologi yang meremehkan potensi pasar konsumen. Namun, itulah yang terjadi pada Ken Olsen, pendiri sekaligus CEO Digital Equipment Corporation (DEC), perusahaan minikomputer raksasa yang berjaya pada pertengahan abad ke-20 hingga akhirnya meredup pada 1998.
Ucapan kontroversial Olsen disampaikan dalam konvensi World Future Society pada 1977. Saat itu, komputer masih berwujud mainframe raksasa atau minikomputer yang membutuhkan staf khusus untuk mengoperasikannya. Olsen kemudian mengklaim bahwa kata-katanya diambil di luar konteks.
Menurut klaimnya, ia tidak merujuk pada komputer pribadi seperti PC atau laptop yang kita kenal sekarang. Yang ia maksud adalah proposal futuristik tentang "komputer master" yang akan mengotomatisasi berbagai fungsi di dalam rumah—sebuah konsep yang kini kita kenal sebagai smart home atau rumah pintar.
Terlepas dari konteks yang coba diluruskan, pernyataan Olsen tetap meleset. Alih-alih menjadi barang langka, perangkat komputasi justru menjamur di rumah-rumah. Lebih dari itu, perkembangan teknologi smart home sepanjang abad ke-21 menjadi salah satu inovasi paling menarik di industri konsumen.
Meski begitu, visi rumah yang sepenuhnya otomatis dan cerdas ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Ada tiga hambatan utama yang membuat adopsi smart home berjalan lambat: biaya yang masih tinggi, keterbatasan perangkat keras, serta masalah interoperabilitas dan integrasi antar perangkat dari merek berbeda.
Hambatan interoperabilitas inilah yang akhirnya mulai terpecahkan berkat kehadiran standar Matter. Protokol ini memungkinkan perangkat pintar dari berbagai produsen—baik itu lampu, sensor, atau smart speaker—bisa saling berkomunikasi tanpa perlu hub atau aplikasi khusus yang terpisah-pisah.
Jika Ken Olsen masih hidup, mungkin ia akan tercengang melihat bagaimana ramalannya yang pesimis justru berbanding terbalik dengan realitas. Saat ini, bukan hanya satu, tapi banyak komputer dan perangkat pintar yang menghuni setiap sudut rumah—sebuah bukti bahwa masa depan seringkali melampaui imajinasi para pionirnya sekalipun.