SULAWESI SELATAN — Perang drone antara Rusia dan Ukraina memunculkan berbagai modifikasi dadakan di medan tempur. Salah satu yang terbaru dan paling sederhana: pemasangan kompas magnetik murah pada drone Molniya buatan Rusia. Alat navigasi analog ini menjadi solusi saat sambungan GPS dan sinyal kendali terputus akibat gelombang elektronik lawan.
Dalam foto yang beredar di media sosial, kompas tersebut hanya diikat dengan lima sekrup Philips ke panel dekat kamera FPV (first-person view). Pemasangannya tampak kasar, jelas bukan modifikasi pabrik. Tapi fungsinya krusial: kamera drone bisa diarahkan ke bawah untuk membaca kompas, lalu pilot mencocokkan data itu dengan telemetri lain guna menentukan posisi relatif.
“Kami memasang kompas dengan sekrup sadap sendiri. Kamera melihat ke bawah untuk memeriksa arah,” tulis akun X yang membocorkan gambar tersebut pada Juli 2026. Modifikasi ini dinilai efektif di tengah maraknya GPS jamming di wilayah udara Ukraina.
Molniya adalah drone jarak menengah yang mengandalkan sistem kendali radio open-source ExpressLRS. Dalam kondisi ideal, jangkauannya mencapai 100 kilometer. Untuk mengatasi gangguan, beberapa varian Molniya juga dilengkapi sambungan Starlink, meski strategi ini mulai ditinggalkan karena Ukraina mewajibkan registrasi perangkat Starlink yang beroperasi di wilayahnya.
Varian lain menggunakan kabel fiber optik yang kebal terhadap interferensi elektronik. Konsekuensinya, jangkauan drone terbatas menjadi 30 kilometer, tapi kendali tetap stabil. Kompas magnetik menjadi lapisan ketiga—solusi paling murah dan paling kasar untuk situasi darurat.
Fenomena “field upgrade” ini mengingatkan pada Perang Dunia II, ketika tentara Amerika mengelas pelat baja tambahan di tank Sherman untuk menahan tembakan tank Jerman. Bedanya, kini yang dimodifikasi adalah drone seharga beberapa ratus dolar dengan kompas seharga kopi kekinian.
Meski terlihat primitif, modifikasi ini diakui membantu misi tetap berjalan. “Tidak peduli seberapa kasar dan primitif tampilannya, fakta bahwa ini membantu tentara Rusia mencapai misi berarti ini modifikasi murah, efektif, dan mematikan,” tulis Defence Blog yang pertama melaporkan temuan ini.
Bagi pengamat teknologi militer, kompas sekrup ini menunjukkan bahwa perang elektronik modern belum sepenuhnya menggantikan naluri navigasi analog. Di sisi lain, modifikasi semacam ini bisa menjadi pelajaran bagi produsen drone sipil: sistem navigasi redundan—meski sederhana—bisa menyelamatkan misi saat sinyal satelit hilang.
Di Indonesia, fenomena ini relevan mengingat Kominfo tengah mendorong penggunaan drone untuk sektor pertanian dan logistik di daerah terpencil dengan cakupan GPS terbatas. Solusi ala perang mungkin berlebihan, tapi prinsipnya sama: jangan taruh semua kepercayaan pada satu sistem navigasi.