Baharuddin yang akrab disapa Barhaf menegaskan, aklamasi tidak semestinya dimaknai sebagai kemenangan satu figur atas figur lainnya. Menurutnya, mekanisme ini justru lahir dari konsensus politik mayoritas pemilik suara dalam organisasi.
“Ketika sebagian besar pemegang hak suara telah menentukan pilihan yang sama, maka aklamasi dapat dipahami sebagai mekanisme konsolidasi organisasi, bukan sebagai bentuk penghilangan demokrasi,” ujar Barhaf dalam keterangannya, Jumat (17/7/2026).
Ia menjelaskan, dalam perspektif sosiologi politik modern, partai yang matang diukur dari kemampuannya menjaga stabilitas dan kohesi kader, bukan semata tingkat kompetisi internal.
Barhaf menyebut figur-figur yang muncul dalam bursa calon ketua, seperti Ilham Arief Sirajuddin (IAS), Munafri Arifuddin, dan Ina Kartika Sari, memiliki modal politik berbeda dan bisa saling melengkapi. Dukungan mayoritas yang mengarah ke IAS, katanya, jangan dipandang sebagai upaya menyingkirkan kader lain.
“Golkar memiliki banyak kader potensial. Tantangannya bukan siapa yang menang atau kalah, tetapi bagaimana seluruh kekuatan internal dapat disatukan untuk menghadapi agenda politik yang lebih besar,” kata Barhaf.
Musda XI ini dinilai menjadi ujian penting bagi kedewasaan partai dalam mengelola dinamika internal. Kepemimpinan yang terpilih nantinya diharapkan mampu merangkul seluruh elemen partai dan menghindari polarisasi di tingkat kader.
Barhaf menekankan, politik modern menuntut kolaborasi antarelite dan penguatan institusi partai. Keberhasilan Musda tidak hanya diukur dari terpilihnya ketua baru, tetapi dari kemampuan menjaga soliditas organisasi setelah proses pemilihan selesai.
“Keberhasilan Musda bukan hanya soal siapa yang menjadi ketua, tetapi bagaimana seluruh kader tetap merasa menjadi bagian dari masa depan Partai Golkar,” ujarnya.
Musda DPD I Golkar Sulsel merupakan forum tertinggi partai di tingkat provinsi untuk memilih kepengurusan baru. Forum ini juga menjadi ajang konsolidasi menjelang berbagai agenda politik, termasuk persiapan menghadapi Pemilu 2029. Sejumlah kader berharap musda berlangsung kondusif dan menghasilkan kepemimpinan yang memperkuat posisi Golkar di Sulawesi Selatan.