MAROS — Budaya prasejarah Toalean yang dikenal melalui artefak batu ikonik "Maros Poin" ternyata memiliki akar yang jauh lebih dalam dari perkiraan sebelumnya. Penelitian terbaru yang melibatkan peneliti dari Universitas Hasanuddin, BRIN, Griffith University, dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Sulsel mengonfirmasi bahwa inovasi teknologi di Sulawesi Selatan telah berlangsung sejak Pleistosen Akhir, sekitar 40.000 tahun lalu.
"Yang menarik dari penelitian ini adalah adanya kesinambungan teknologi yang sangat panjang. Budaya Toalean tidak muncul dari ruang kosong," ujar Suryatman, penulis utama penelitian dari Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Unhas, dalam siaran persnya, Kamis.
Hasil analisis terhadap ribuan serpihan batu di Leang Panninge menunjukkan bahwa berbagai ciri khas Toalean, seperti teknik pembuatan mata panah yang presisi, berkembang di atas fondasi teknologi lokal yang telah digunakan masyarakat Sulsel selama puluhan ribu tahun. Proses adaptasi dan eksperimen inilah yang kemudian melahirkan salah satu tradisi prasejarah paling khas di Indonesia.
Guru Besar Arkeologi Unhas, Prof Akin Duli, menegaskan bahwa signifikansi Leang Panninge melampaui sekadar artefak batu. Situs ini juga menyimpan bukti mengenai manusia purba, termasuk penemuan individu yang dijuluki "Bessé'" yang membuka jendela baru tentang sejarah populasi di Sulawesi.
"Bersama-sama, kedua penelitian ini memperlihatkan betapa pentingnya Sulawesi dalam memahami sejarah manusia di kawasan Wallacea," jelasnya.
Profesor Adam Brumm dari Griffith University menambahkan bahwa studi ini memberikan bukti kuat bahwa inovasi teknologi di Wallacea dibangun di atas tradisi lokal yang mendalam, bukan sekadar pengaruh dari luar. "Ciri khas budaya Toalean ini muncul melalui proses adaptasi, eksperimen, dan pengembangan budaya yang panjang, berlangsung selama puluhan ribu tahun," katanya.
Penelitian ini juga menempatkan perkembangan teknologi dalam konteks budaya yang lebih luas. Budianto Hakim dari Pusat Kolaborasi Riset Arkeologi Sulawesi mengingatkan bahwa pada periode yang sama, kawasan karst Maros-Pangkep juga menjadi sakbis berkembangnya tradisi seni cadas tertua di dunia.
"Masyarakat yang menghuni kawasan tersebut memiliki kemampuan adaptasi dan kreativitas yang tinggi, yang tercermin baik dalam perkembangan teknologi maupun dalam ekspresi simbolik mereka," ungkapnya.
Sementara itu, perwakilan BRIN Adhi Agus Oktaviana yang telah lama meneliti lukisan dinding karst Maros-Pangkep menambahkan, sejak 40.000 tahun lalu, inovasi teknologi masyarakat prasejarah Sulsel tidak hanya didorong oleh kebutuhan bertahan hidup. "Ada dedikasi teknis untuk memfasilitasi ekspresi artistik dan budaya yang sangat maju pada masanya," pungkasnya.