SULAWESI SELATAN — Kabar mengejutkan datang dari dunia ponsel pintar. OnePlus, merek yang sempat menjadi favorit para penggemar Android berkat kombinasi performa gahar dan harga agresif, dikabarkan akan hengkang dari pasar Amerika Serikat dan Eropa. Informasi ini pertama kali dilaporkan oleh Bloomberg, mengutip sumber yang dekat dengan masalah tersebut.
Keputusan ini merupakan bagian dari restrukturisasi besar di tubuh Oppo, perusahaan induk yang sepenuhnya memiliki OnePlus. Sumber Bloomberg menyebutkan perubahan ini bisa terjadi mulai pekan ini. Sebagai bagian dari rencana yang sama, Realme, merek saudara OnePlus, juga akan keluar dari pasar China.
Tekanan utama datang dari membengkaknya biaya komponen, terutama chip memori. Menurut riset Counterpoint Research, merek China seperti Oppo dan OnePlus merasakan dampak lebih berat dibandingkan Apple dan Samsung. Margin keuntungan yang lebih tipis membuat mereka sulit menyerap kenaikan biaya komponen yang melonjak 20-30 persen sejak awal 2025.
Di segmen entry-level, tekanan ini sangat terasa. Akibatnya, strategi harga agresif yang dulu menjadi andalan OnePlus untuk mengungguli Apple dan Samsung kini sulit dipertahankan. Di sisi lain, Apple dan Samsung masih mendominasi pasar global. Data Omdia mencatat, pada kuartal II 2026, Samsung menguasai 22 persen pangsa pasar global dan Apple mencatat rekor 20 persen. Sementara itu, di AS, OnePlus bahkan tertinggal dari Motorola dan Google.
Kepergian OnePlus dari AS dan Eropa bukanlah akhir dari cerita. Bloomberg melaporkan, penarikan diri ini diperkirakan akan meluas ke seluruh dunia, termasuk India, pada suatu titik di tahun 2027. Lantas, bagaimana dengan Indonesia?
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari OnePlus Indonesia mengenai dampak restrukturisasi global ini ke pasar lokal. Namun, jika skenario global benar-benar terjadi, pengguna di Indonesia harus bersiap dengan potensi berkurangnya dukungan purna jual dan ketersediaan produk terbaru OnePlus di masa depan.
Salah satu indikasi awal kesulitan OnePlus di AS terlihat dari peluncuran flagship terbarunya, OnePlus 15. Ponsel ini diperkenalkan secara global pada 13 November 2025, namun penjualannya di AS tertunda. Penyebabnya, proses sertifikasi FCC terhambat akibat penghentian operasional pemerintah federal AS yang baru saja berakhir sehari sebelum peluncuran.
Keterlambatan sertifikasi ini menjadi pukulan telak bagi OnePlus yang sedang berusaha bersaing di pasar paling bergengsi sekaligus paling sulit di dunia.
Di pasar asalnya, China, Oppo juga menghadapi tekanan berat. IDC melaporkan pengiriman ponsel di China turun 4,3 persen year-on-year pada kuartal II 2026, menandai penurunan kuartal kelima berturut-turut. Oppo tertinggal dari pemimpin pasar seperti Huawei dan Apple. Satu-satunya vendor besar yang mencatat pertumbuhan hanyalah Apple dan Huawei, yang juga terkena dampak krisis chip memori yang sama.
CEO Apple, Tim Cook, bahkan menyebut kenaikan harga di lini produk mereka sebagai hal yang "tidak terhindarkan" akibat krisis ini.
Kepergian OnePlus dari pasar global menandai berakhirnya era baru bagi merek yang dulu dikenal sebagai "flagship killer". Kini, para penggemar setianya hanya bisa menunggu apakah merek ini akan benar-benar lenyap atau justru kembali dengan strategi yang berbeda.