SULAWESI SELATAN — Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara kedua perusahaan. Langkah ini menjadi fondasi awal untuk mengkaji potensi pemanfaatan arsitektur satelit Very Low Earth Orbit (VLEO) milik UNIVITY yang dipadukan dengan infrastruktur milik Telkomsat.
Bayangkan, ponsel di tangan Anda bisa langsung 'ngobrol' dengan satelit yang mengorbit sangat rendah di atas bumi. Itulah inti dari teknologi Direct-to-Device yang tengah dijajaki. UNIVITY sendiri mengembangkan konstelasi VLEO dengan memanfaatkan spektrum 5G milik operator telekomunikasi, yang dirancang untuk memberikan kecepatan tinggi dan latensi rendah.
Tak cuma D2D, kedua perusahaan juga akan menguji coba arsitektur hybrid multi-orbit. Konsepnya, satelit geostasioner (GEO) milik Telkomsat yang sudah ada di orbit 36.000 km akan diintegrasikan dengan konstelasi VLEO milik UNIVITY yang hanya berada di ketinggian beberapa ratus kilometer.
"Kami ingin mengeksplorasi bagaimana arsitektur satelit yang berkembang dan kapabilitas jaringan nonterestrial pada masa mendatang dapat berkontribusi dalam menjawab kebutuhan konektivitas yang terus berkembang di seluruh Indonesia," ujar Direktur Pengembangan Telkomsat, Anggoro K. Widiawan, dalam keterangan resmi, Senin (13/7).
Integrasi ini diharapkan bisa menghadirkan solusi konektivitas yang lebih tangguh dan adaptif. Bukan cuma untuk kebutuhan komersial, teknologi ini juga disiapkan untuk mendukung sektor publik dan aplikasi keamanan nasional.
Salah satu aspek krusial yang dikaji dalam kerja sama ini adalah penguatan kapabilitas satelit yang berdaulat. Artinya, infrastruktur stasiun bumi yang berlokasi di dalam negeri akan dimanfaatkan dan diintegrasikan langsung dengan konstelasi VLEO ke depannya.
Telkomsat tidak datang dengan tangan kosong. Sebagai operator satelit nasional, mereka mengantongi aset satelit, infrastruktur stasiun bumi, kemampuan operasional, serta pemahaman mendalam soal regulasi dalam negeri. "Konektivitas satelit terus memainkan peran penting dalam mendukung ekosistem digital Indonesia, khususnya di wilayah terpencil dan tersebar secara geografis," tambah Anggoro.
CEO dan Founder UNIVITY, Charles Delfieux, menilai Indonesia sebagai salah satu pasar konektivitas paling dinamis di dunia. Menurutnya, peluang konvergensi antara jaringan darat dan antariksa di Indonesia sangat terbuka lebar.
"Melalui MoU bersama Telkomsat ini, kami berharap dapat menjajaki bagaimana solusi konektivitas satelit masa depan dapat melengkapi infrastruktur yang telah tersedia serta mendukung berbagai penerapan baru seiring waktu," kata Charles.
Jika uji coba dan kajian teknis berjalan mulus, teknologi ini berpotensi menjadi solusi bagi