MAKASSAR — Puluhan stan berjejer rapi di pameran Dekranas. Lampu sorot menerangi setiap produk. Pejabat daerah bergantian naik panggil mempromosikan unggulan masing-masing. Namun di tengah riuh rendah klaim "produk terbaik" dan "siap mendunia", Bupati Wajo Andi Rosman punya jawaban berbeda saat diberi kesempatan bicara.
Ia tidak perlu berpikir lama. Jawabannya sudah siap sejak lama: sutera.
Rosman sadar betul bahwa pasar tidak membeli romantisme sejarah. Sutera Wajo memang sudah terkenal sejak puluhan tahun lalu, jauh sebelum sebagian besar pejabat hari ini lahir. Namun sejarah panjang tidak otomatis membuat produk tetap laku.
"Meningkatkan kualitas berarti meningkatkan desain, memperbaiki pemasaran, dan membuat produk lokal mampu bersaing dengan produk luar," kata Rosman dalam pidatonya di acara penutupan HUT ke-46 Dekranas, pekan lalu di Makassar. Ia menegaskan bahwa meningkatkan kualitas tidak semudah memasang spanduk "Bangga Buatan Indonesia".
Yang dipertaruhkan bukan sekadar selembar kain. Di balik sutera Wajo, ada ribuan penenun, pelaku UMKM, dan keluarga yang menggantungkan hidup dari industri ini. Kalau sutera hanya dipajang di pameran, dipakai saat acara adat, atau dibanggakan dalam pidato, itu belum cukup.
"Sutera harus laku. Harus menghasilkan uang. Harus membuka lapangan kerja. Harus membuat ekonomi bergerak," tegas Rosman.
Tanpa itu, kata dia, semua cerita tentang kejayaan sutera hanya akan menjadi romantisme masa lalu. Dan pasar tidak pernah membeli romantisme.
Langkah Rosman membawa sutera Wajo ke panggung Dekranas bukan sekadar soal foto bersama menteri atau seremonial tahunan. Ini soal mencari pembeli, mencari pasar, dan mencari masa depan.
Menurutnya, daerah tidak akan maju hanya dengan menjual janji. Daerah maju karena mampu menjual produknya. Untuk Wajo, produk itu masih sama seperti puluhan tahun lalu: sutera. Bedanya, targetnya kini bukan lagi pasar kampung, melainkan pasar dunia.
Pembeli masa kini, kata Rosman, hanya peduli pada satu hal: bagus atau tidak, layak dibeli atau tidak. Mereka tidak peduli apakah sebuah kain ditenun dengan penuh cinta. Maka satu-satunya cara bertahan adalah membuat produk yang mampu menjawab kebutuhan zaman.